Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 09 Okt 2017 17:30 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Tahu Tidak, Ada Lembah Seindah Ini di Jalur Sutra

Foto: (Dok. Himanshu Khagta/BBC Travel)
Milam - Lembah Johar di Tibet menyimpan kekayaan hayati berharga ratusan juta rupiah. Di sisi lain, para pendaki juga berbondong-bondong ke sana.

Dilansir dari BBC Travel, Senin (9/10/2017), ketegangan perbatasan antara Tibet dengan China yang melanda kawasan ini membuat Lembah Johar baru dibuka kembali pada tahun 1994. Namun, traveler yang ke sana harus mematuhi peraturan yang ketat.

Bahkan, untuk saat ini setelah sekitar 60 tahun kedamaian di perbatasan, semua pengunjung masih dipantau dengan hati-hati karena takut mereka menjadi mata-mata China. Wisatawan memerlukan izin bersama dan persetujuan dari polisi perbatasan Tibet.

Di desa terbesar yang pernah ada di Lembah Johar, Milam ada pos polisi perbatasan Tibet terbesar. Meskipun proses perizinannya rumit, Lembah Johar Valley malah populer di kalangan traveler dengan trek yang amat menantang.

Dua dari desa-desa yang ditinggalkan, yakni Panchu dan Ghangar adalah titik awal perjalanan sejauh 6 kilometer ke Nanda Devi. Inilah gunung tertinggi kedua di India dengan puncaknya mencapai 7.816 meter di atas permukaan laut.

Namun begitu masih banyak trek yang tidak dibuka di wilayah ini, tapi tetap Lembah Johar ini menjadi magnet tersendiri bagi para pendaki, terutama yang sudah berpengalaman.

Akhir Perselisihan

Dahulu, perselisihan perbatasan terjadi antara India dengan China menyebabkan Perang Sino-India pada tahun 1962. Setelah serangkaian dialog yang berujung gagal antar kedua negara, perbatasan ditutup, dan peleton tentara India dikerahkan di Lembah Johar.

Tahu Tidak, Ada Lembah Seindah Ini di Jalur SutraKehidupan masyarakat setempat (Dok. Himanshu Khagta/BBC Travel)


Desa-desa yang semula hidup di Jalur Sutra ini dievakuasi dan Shaukas (suku paling dominan di Lembah Johar) pindah ke daerah yang lebih rendah di mana mereka ditawari tanah dan pekerjaan di pemerintahan. Perdagangan Jalur Sutra di Tibet pun berakhir.

Penduduk Shauka Kembali ke Tanah Kelahiran

Meskipun pedagang Shauka yang kaya telah pindah beberapa dekade lalu, beberapa keturunan mereka kembali untuk membangun kembali rumah-rumah yang hancur di Lembah Johar. Namun, hal itu adalah pekerjaan yang berat dan mahal karena bahan bangunan harus diangkut menggunakan keledai dari kota terdekat sekitar 60 kilometer jauhnya.

Banyak dari mereka hanya berkemah di rumah kumuh selama berbulan-bulan hanya untuk menghangatkan diri sebelum mencari jamur ulat yang berharga ratusan juta saat gletser mencair. Hidup sederhana, karena memang tidak ada banyak pekerjaan di wilayah ini.

Kehidupan sederhana itu tercermin saat orang-orang Shauka menanam sayuran mereka sendiri dan mendapatkan beberapa lembar uang saat menjualnya kepada para prajurit.

Tidak ada listrik. Penduduk mengandalkan tenaga surya dan kayu bakar dari hutan. Ternak mereka pun harus harus tinggal di tanah wilayah India karena tak bisa melewati perbatasan. Tanaman di desa yang dapat dimakan untuk lauk nasi juga roti adalah bayam liar dan pakis yang dimasak dengan minyak juga rempah-rempah khas Shauka. (msl/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA