Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 18 Jun 2018 22:55 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Berkunjung ke Perkampungan Muslim Suku Hui di China

Wahyu Setyo Widodo
Redaksi Travel
Perkampungan muslim Suku Hui di China (Wahyu/detikTravel)
Perkampungan muslim Suku Hui di China (Wahyu/detikTravel)
Wuzhong - Berwisata ke Jalur Sutra China, traveler bisa berjumpa dengan saudara-sesama muslim, Suku Hui. Berkunjunglah ke rumah mereka untuk berkenalan lebih dekat.

China memang berideologi komunis. Tapi itu tidak berarti umat Muslim tidak bisa hidup di negeri ini. Buktinya bisa traveler lihat dari kehidupan Suku Hui yang mayoritas beragama Islam di China.

Suku Hui tinggal di beberapa provinsi, salah satunya adalah Ningxia. Mereka tinggal di sebuah perkampungan yang bernama Wuzhong Muslim New Village, yang kini jadi destinasi wisata halal untuk dikunjungi traveler.

detikTravel bersama rombongan Halal Trip HIMPUH (Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji) berkunjung ke perkampungan muslim Suku Hui ini beberapa waktu lalu, sebelum bulan Ramadan. Agenda kami di sini yaitu makan malam bersama di rumah warga Suku Hui ini.

Salah satu halaman rumah milik warga (Wahyu/detikTravel)Salah satu halaman rumah milik warga (Wahyu/detikTravel)


Perkampungan muslim Suku Hui ini terdiri dari rumah-rumah yang bentuknya nyaris seragam. Masing-masing rumah dilindungi oleh tembok berwarna putih, dan pintu yang dilengkapi semacam gapura.

Rumah asli mereka terlindung di balik tembok-tembok putih ini. Melongok ke balik pintu, masing-masing rumah ini dilengkapi dengan halaman.

Ada yang memfungsikan halaman ini sebagai tempat parkir, tempat menjemur baju, tempat berjualan, dan ada juga yang membiarkannya begitu saja.

Menyusuri jalanan Perkampungan Muslim Suku Hui (Wahyu/detikTravel)Menyusuri jalanan Perkampungan Muslim Suku Hui (Wahyu/detikTravel)


Di tengah-tengah pemukiman, dibelah oleh jalan raya yang ukurannya cukup lebar, muat untuk 2 mobil. Setelah bus yang kami tumpangi parkir, kami pun berjalan kaki menyusuri jalan ini untuk berkunjung ke rumah salah satu penduduk Suku Hui.

Rombongan kami pun masuk ke rumah salah seorang warga. Dengan ramah, sang pemilik rumah mempersilakan kami masuk ke kediamannya. Rumah mereka sendiri cukup sederhana. Tanpa ada perabotan yang mewah-mewah. Namun ada kehangatan yang terpancar dari dalam rumah.

Wanita Suku Hui yang trampil memasak (Wahyu/detikTravel)Orang suku Hui yang ramah-ramah (Wahyu/detikTravel)


Ternyata di dalam rumah, sudah diatur beberapa meja makan dan kursi untuk rombongan kita. Bermacam-macam hidangan sudah tersaji di atas meja ini. Ada tumis sayuran, ayam goreng, hingga nasi goreng.

Aneka hidangan ini dimasak sendiri oleh para wanita Suku Hui. Saya sempat menengok sebentar ke dapur dimana mereka memasak aneka hidangan ini. Dengan trampil, wanita Suku Hui ini memotong sayuran kemudian menumisnya di atas wajan besar dengan api yang membara.

Wanita Suku Hui yang trampil memasak (Wahyu/detikTravel)Wanita Suku Hui yang trampil memasak (Wahyu/detikTravel)


Bau semerbak wangi makanan pun mulai tercium. Akhirnya kami pun menyicipi masakan ala Suku Hui. Soal rasa, masakan mereka ternyata enak dan cocok dengan lidah Indonesia, terutama nasi gorengnya.

Saya sempat berbincang dengan si empunya rumah, seorang wanita paruh baya bernama Ma Su Ying (80). Di usianya yang senja, Su Ying terlihat ceria. Apalagi ketika kami datang bertamu, dia tampak gembira menyambut kami.

Senyum tak pernah lepas dari wajahnya yang sudah dihiasi banyak kerutan. Kepada kami, Su Ying bercerita dirinya sudah memeluk Islam sejak dia kecil.

"Saya dari kecil memeluk Islam. Kami semua muslim di sini. Sama seperti muslim lainnya, kami berpuasa, salat dan mengaji," kisah SU Ying.

Su Ying, sang empunya rumah (Wahyu/detikTravel)Su Ying, sang empunya rumah (Wahyu/detikTravel)


Dengan aura keibuan yang teduh, Su Ying menceritakan kesehariannya. Dengan bantuan penerjemah, Su Ying bercerita jika mereka punya ladang dan hidup dari ladang tersebut.

"Kalau muslim punya ladang sendiri. Semuanya (hidangan di meja -red), kami masak sendiri. Asalnya ya dari hasil ladang kami," ujar Su Ying.

Selain bercerita, Su Ying juga sempat unjuk gigi dalam hal kemampuannya membaca Al Quran. Masya Allah, di usianya yang sudah senja ternyata Su Ying masih sanggup melafalkan bacaan-bacaan Quran dengan lancar, bahkan tanpa bantuan kaca mata.

Keakraban kami dengan Su Ying (Wahyu/detikTravel)Keakraban kami dengan Su Ying (Wahyu/detikTravel)


Sungguh diri ini merasa sedikit tertampar. Su Ying yang sudah renta saja masih mengamalkan untuk membaca Al Quran setiap harinya. Sementara kami yang masih muda-muda, sekadar menyentuh mushaf Al Quran saja masih dalam kisaran hitungan jari saja dalam seminggu.

Di akhir perjumpaan, akhirnya kami berpamitan dengan Su Ying dan juga anggota keluarganya yang lain. Setiap ada pertemuan, pasti akan ada perpisahan. Dengan cukup sedih, Su Ying dan keluarganya mengantarkan kami sampai ke depan rumah.

Berkunjung ke Perkampungan Muslim Suku Hui memberi saya pelajaran baru tentang kemanusiaan dan memuliakan tamu. Meski tak punya hubungan pertalian darah dengan Su Ying dan keluargnaya, tetapi kami diikat oleh satu hubungan yang spesial: kami bersaudara karena sesama muslim. (wsw/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED