Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 25 Mei 2019 22:10 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Cerita Rumah Pohon dan Gajah Mematikan

Ahmad Masaul Khoiri
detikTravel
Rumah pohon di Myanmar (Minzayar/Reuters)
Rumah pohon di Myanmar (Minzayar/Reuters)
Yangon - Siapa yang tak suka rumah pohon? Itulah impian sebagian anak pada masa kecil bahkan hingga dewasa. Tapi, tidak dengan rumah pohon ini.

Inilah cerita yang dialami Than Shin. Ia menggendong cucunya di bawah rumah pohon keluarga di Kyar Chaung, sebuah desa kecil di daerah pedesaan Myanmar, melansir Reuters, Sabtu (25/5/2019).

Bagi sebagian orang, rumah pohon terdengar mengasyikkan. Tetapi bagi penduduk Kyar Chaung, berjarak 64 km di utara Yangon, itu untuk menghindari serangan gajah liar yang mematikan.

Seekor gajah bergerak melalui semak belukar di hutan di sekitar Kyar Chaung. Pada tahun 2014, orang-orang hidup dalam ketakutan setelah gajah mulai menyerang manusia sekitar 15 tahun yang lalu.

BACA JUGA: Kisah Muslim dan Hindu Bersatu Lawan Harimau Suruhan Setan

Setiap tahun, rata-rata tujuh orang meninggal akibat serangan gajah, menurut departemen kehutanan pemerintah. Sebagian besar keluarga di desa memiliki dua rumah, satu di tanah untuk tempat mereka tinggal di siang hari dan satu di pohon di mana mereka berlindung dari gajah di malam hari.

Penduduk desa mengatakan gajah mendekati rumah mereka karena mereka tidak dapat menemukan cukup makanan di habitat alami mereka. Alasannya, hutan telah rusak oleh deforestasi (penggundulan hutan).

"Suatu malam, ketika kami sedang tidur, kami mendengar suara tabrakan yang keras. Saya tahu itu adalah 'Bo-Taw' (gajah). Saya terkejut ketika saya menemukan belalainya sudah mengangkat kantong beras kami. Saya hanya berlari dan berlari. Untungnya, tidak ada anggota keluarganya yang terluka malam itu," kata istri kepala desa.

(Minzayar/Reuters)(Minzayar/Reuters)


Lima desa tetangga lainnya dalam radius 11 kilometer telah diteror oleh gajah selama 16 tahun. Penduduk desa menanam padi, jagung, tebu, pisang, dan tanaman lain sebagai mata pencaharian.

Rumah-rumah mereka tersebar, ada yang di sawah, di ladang pisang, di ladang jagung. Semua tanaman ini adalah santapan lezat untuk gajah.

Serangan itu tidak menjadi masalah ketika hanya ada satu atau dua gajah di sini. Tetapi penduduk desa mengatakan jumlahnya bertambah menjadi sekitar 40 ekor dan makan tanaman di ladang.

Penduduk desa menemukan cara mereka sendiri berlindung yakni menggunakan api untuk mencegah gajah mendekat. Mereka tidur di rumah pohon mereka setiap malam, dan mereka harus merelakan barang-barang yang tinggalkan di rumah mereka di tanah.

Di hampir setiap rumah pohon ada pemutar CD untuk membuat suara refleksi yang ditakuti gajah. Penduduk memiliki panah untuk menembak binatang itu.

(Minzayar/Reuters)(Minzayar/Reuters)


Sebagai upaya terakhir, sebuah kamp pelatihan militer terdekat memberi para penduduk desa beberapa 'bom kilat'. Itu untuk digunakan ketika keadaan benar-benar di luar kendali.

Komentar datang dari pensiunan pemburu berusia 67 tahun, Than Maung, yang juga ahli gajah. Alasan banyak binatang buas datang ke daerah ini karena tidak ada lagi makanan untuk mereka di hutan dan pegunungan karena penggundulan hutan yang serius.

"Gajah-gajah tidak menyerang Anda jika Anda tidak mencoba mengganggu mereka makan. Tetapi jika mereka melakukannya, Anda harus lari," katanya.

Setiap hari, gajah liar mulai mencari makan sekitar pukul 16.00 dan mereka berjalan sepanjang malam dari satu ladang ke ladang lain sampai sekitar pukul 08.00, keesokan harinya. Sebagian besar gajah tidur di siang hari.

Ketika mereka tidak tidur, mereka sering mengejutkan penduduk desa yang bekerja di ladang. Ada beberapa gajah yang mengejar orang begitu mereka melihatnya, tetapi ada juga yang menghindari manusia.

(Minzayar/Reuters)(Minzayar/Reuters)


Di desa saya bertemu Dhamma Nanda, seorang biksu Buddha, ia hanya berdoa dan membagikan cintanya untuk gajah. Dhamma Nanda, yang tinggal sendirian di sebuah biara yang terbuat dari bambu, percaya gajah hanya membunuh orang yang berbicara atau melakukan hal-hal yang salah.

Tidak ada rumah pohon di halamannya. Ini mungkin alasan ketika terlihat beberapa pisang dan beberapa butir beras yang berserakan di meja makannya. Ini sudah menjadi biara ketiganya setelah dua sebelumnya dihancurkan oleh gajah.

"Saya berlari untuk hidup sampai terjebak di semak-semak. Saya tidak bisa bergerak lagi karena semak ini memiliki banyak duri. Saya terus berdoa. Saya berbicara kepada mereka bahwa saya bukan seseorang yang melakukan kesalahan. Jadi tolong biarkan aku hidup!," kenang dia. (msl/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA