Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 04 Agu 2019 02:10 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

12 Fakta tentang Gunung Everest, Gunung Tertinggi di Dunia

Virgina Maulita Putri
detikTravel
12 Fakta tentang Gunung Everest, Gunung Tertinggi di Dunia Foto: Prakash Mathema/Getty Images
Jakarta - Sebagai gunung tertinggi di dunia, Gunung Everest pasti menjadi gunung impian bagi banyak pendaki. Puncak tertinggi di dunia pertama kali dicapai oleh Edmund Hillary dan Tenzing Norgay pada 29 Mei 1953.

Kini, berkat kemajuan infrastruktur dan teknologi, sudah semakin banyak pendaki yang berhasil mencapai puncaknya. Kalau kalian tertarik ingin mengunjungi gunung ini, simak dulu yuk fakta-fakta menariknya yang dirangkum detikTravel dari berbagai sumber.



1. Terletak di Perbatasan Nepal-Tibet

Gunung Everest merupakan bagian dari Pegunungan Himalaya. Puncaknya berada di ketinggian 8.848 meter di atas permukaan laut dan berada di perbatasan antara Tibet dan Nepal.

2. Nama Lain Everest

Karena berada di perbatasan, Gunung Everest memiliki banyak nama. Orang Tibet menyebutnya Chomolungma yang berarti "Ibu Suci", sedangkan orang Nepal menyebutnya Sagarmatha yang berarti "Dewi Langit".

Nama Inggris resminya ditetapkan pada tahun 1865 oleh Royal Geographical Society berdasarkan rekomendasi British Surveyor General of India, Andrew Waugh. Waugh sendiri mengambil nama pendahulunya Sir George Everest.

3. Termasuk dalam Seven Summits

Sebagai gunung tertinggi di dunia, Gunung Everest tentu masuk dalam daftar Seven Summits atau puncak-puncak tertinggi di tujuh benua. Keenam gunung lainnya yang masuk dalam daftar ini adalah Gunung Carstenz Pyramid di Papua, Gunung Elbrus di Rusia, Gunung Kilimanjaro di Tanzania, Gunung Aconcagua di Argentina, Gunung Vinson di Antartika, dan Gunung Denali di Alaska.



4. Terus Bertambah Tinggi

Ilmuwan memperkirakan Gunung Everest berusia sekitar 50-60 juta tahun, masih cukup muda untuk standar geologi. Gunung ini terbentuk berkat kekuatan ke atas yang dihasilkan ketika lempeng tektonik India dan Eurasia bertabrakan, kemudian mendorong bebatuan yang membentuk gunung tertinggi di Bumi.

Kekuatan tersebut masih bekerja hingga saat ini, mendorong puncak Everest menjadi lebih tinggi seperempat inci setiap tahun.

5. Memiliki 17 Rute Pendakian

Ada 17 rute pendakian yang bisa dipilih pendaki untuk mencapai puncak Everest. Tapi ada dua jalur yang paling populer dan sering dipilih yaitu jalur Southeast Ridge dari Nepal dan jalur North Ridge dari Tibet.

6. Durasi Ekspedisi

Waktu yang tepat untuk memulai proses pendakian menuju puncak Everest adalah pertengahan Mei, tapi biasanya proses persiapan telah dimulai berbulan-bulan sebelumnya. Tim ekspedisi biasanya telah berkumpul di Kathmandu, Nepal pada bulan Maret untuk mulai aklimatisasi.

Pada bulan April, pendaki mulai berangsur-angsur naik gunung untuk menyesuaikan diri. Menjelang minggu kedua bulan Mei, tim seharusnya sudah memiliki jalur yang dilengkapi tali dan sudah mengarah ke puncak. Jika semuanya berjalan dengan baik, pada awal bulan Juni pendaki sudah memulai perjalanan pulang.

7. Oksigen Tipis

Dengan ketinggian mencapai 8.848 meter, tekanan udara di puncak Everest hanya sepertiga dari tekanan udara di wilayah yang setara dengan permukaan air laut. Ini menjadikan oksigen sebagai sesuatu yang langka di ketinggian ini. Pendaki pun harus mengandalkan tabung oksigen jika ingin mencapai puncak Everest.

Fakta Gunung EverestFakta Gunung Everest Foto: (iStock)


8. Banyak Ancaman

Selain oksigen yang tipis, pendaki juga harus mempersiapkan diri untuk mengatasi ancaman yang bisa menghambat perjalanan mereka. Seperti altitude sickness atau penyakit ketinggian, cuaca yang buruk, angin, longsor salju dan Khumbu Icefall.

9. Banyak Pendaki Meninggal Dunia

Karena medan yang berbahaya, sudah banyak pendaki yang meninggal dunia saat berusaha mencapai puncak Everest. Berdasarkan data Himalayan Database, hingga akhir musim pendakian 2018 sudah ada 295 orang yang meninggal saat mendaki Everest.

Kebanyakan dari pendaki yang meninggal tersebut mayatnya tertinggal di sana dan terkubur di bawah es. Ketika lapisan es di Everest mencair, baru kemudian jasad-jasad tersebut bisa dilihat.

10. Antri Menuju Puncak

Popularitas Everest mulai meningkat pada tahun 1990-an ketika mulai banyak pemandu yang membuka perjalanan komersial menuju puncak Everest. Hingga saat ini, telah ada lebih dari 5.000 orang yang berhasil mencapai puncak Everest.

Tapi, semakin populer Everest berujung pada semakin ramainya antrian menuju puncak. Akibatnya, baru-baru ini pada musim semi 2019 sudah ada 11 pendaki meninggal dunia saat mengantri menuju puncak.



11. Bisnis Besar untuk Nepal

Untuk perusahaan logistik dan pemerintah Nepal, pendakian Gunung Everest merupakan bisnis yang sangat besar. Pada tahun 2018, Kementerian Pariwisata Nepal mengatakan bahwa mereka berhasil memperoleh pendapatan sebesar USD 5,2 juta (Rp 73 miliar) dari izin pendakian yang mereka terbitkan untuk pendaki.

12. Bantuan Sherpa

Untuk mencapai puncak Everest, tim pendaki biasanya mencari bantuan dari pemandu profesional di Nepal. Biasanya pemandu ini adalah Sherpa - suku yang tinggal dekat dengan Gunung Everest, tapi belakangan ini juga banyak suku lain yang menawarkan jasa pemandu.

Mereka biasanya menyiapkan rute perjalanan, memasok kamp dengan makanan dan kebutuhan esensial lainnya, dan memandu pendaki untuk mencapai puncak. Untuk ekspedisi yang biasanya berlangsung selama 3-4 bulan, para pemandu ini bisa memperoleh pendapatan sebesar USD 2.500-5.000.

Simak Video "Kadisparekraf DKI Meninggal, Hasil Swab Negatif Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/lus)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA