Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 01 Jan 2020 21:45 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Pasangan Ini Buat Rumah Apung Rp 18 Miliar Selama 27 Tahun

Elmy Tasya Khairally
detikTravel
Rumah Apung senilai 18 M (YouTube/FLORB)
Kanada Barat -
Sepasang suami istri menghabiskan waktu selama 27 tahun untuk membangun rumah impian mereka: layaknya sebuah istana, mengapung di tengah pulau. Harganya berkisar Rp 18 miliar.

Dilansir dari The Sun, rumah berdesain cantik ini dibangun oleh pasangan Wayne Adams dan Catherine King. Selama 27 tahun, pasangan ini membangun istana yang mereka namakan Freedom Cove. Lokasinya di Pantai Pulau Vancouver, Kanada barat.

Awalnya, rumah ini dibangun dengan ukuran yang jauh lebih kecil, namun akhirnya diperluas menggunakan bahan daur ulan selama 3 dekade terakhir. Fasilitas yang ada di rumah apung ini adalah studio dansa, ruang kerja, pantai dan mercusuar.

Foto: YouTube/FLORB

Wayne, sebagai pembuat rumah, mengatakan bahwa dia telah terbiasa bekerja memproduksi suatu barang. Jadi membuat benda merupakan bagian dari hidupnya.

"Saya melakukan masa kecil saya di Australia. Saya memiliki pelatihan awal. Di kelas 3, saya mulai bekerja di pekerjaan lembaran logam. Jadi, membuat benda dan membuat benda selalu menjadi bagian dari hidup saya," kata Wayne.

Pasangan ini membangun rumah mereka yang sebagian besar mereka kerjakan sendiri. Tujuannya adalah untuk lebih dekat dengan alam.

"Kami berdua ingin berada di suatu tempat di hutan belantara, melakukan karya seni kami dan terbenam di alam. Karena di situlah kami mendapatkan inspirasi," tambah Wayne.

Foto: YouTube/FLORB

Rumah terapung yang dibangun pasangan ini memiliki desain unik. Warnanya perpaduan magenta dan hijau. Hiasan-hiasan yang terpasang di antaranya berasal dari ikan daur ulang, seperti pada gapura yang terbuat dari sepasang iga ikan paus.

Istri Wayne, Catherine juga telah menanam sayuran untuk mereka makan sepanjang tahun. Fitur unik lainnya yang ada di sini yaitu lantai dansa luar ruangan dan lantai kaca untuk melihat kehidupan bawah air.

Foto: YouTube/FLORB

"Kita akan melihat berang-berang dan anjing laut mengangkat kepala mereka dari sana setiap saat," kata Catherine.

Wayne dan Catherine memiliki ruang kerja di mana mereka memproduksi ukiran dari kayu cedar dan gigi walrus, serta membuat hiasan kepala yang menggabungkan burung bulu asli dan lilin-lilin lebah.

Rumah ini mungkin akan memiliki sedikit kesulitan selama cuaca badai. Tapi, ketika datang air, mereka memiliki sistem air limbah dengan mikroba yang bisa memurnikan semuanya. Dayanya berasal dari panel surya dan generator cadangan.


Untuk pemanasnya, yaitu dengan kayu bakar yang bisa gampang didapatkan, karena rumah ini dikelilingi oleh hutan. Sedangkan untuk sampah, semuanya dikompos dan dibakar, pasangan ini berupaya sebisa mungkin untuk membawa sedikit sampah ke kota untuk didaur ulang.

Pasangan ini hanya menghabiskan waktu di rumah. Mereka hanya pergi untuk kirim surat dan membeli permen. Tidak mudah memang namun mereka mengakui ini sudah menjadi pilihan mereka berdua.

Mereka berhasil tetap bahagia selama proyek yang berlangsung selama hampir tiga dekade. Catherine menjelaskan faktor yang membuat dirinya dan suaminya bisa melewati semua kesulitan yang datang.


"Karena uang tidak pernah menjadi hal yang penting bagi kami, kami tidak pernah saling mengeluh atas keuangan," kata Catherine.

Sedangkan Wayne juga mengungkapkan apa yang membuat dirinya berhasil membangun rumah mereka yang tidak mudah dan dalam waktu yang lama.

"Belajar sambil bekerja. Ada dua tipe sekolah dan saya telah mendapatkan dua duanya," kata Wayne "Ketika Anda melangkah keluar, pilihlah guru, perjalanan, pengalaman Anda keluar dari ruang lingkup Anda dan lakukan sesuatu. Apa yang Anda lihat di sini tidak dapat dipelajari di sekolah," ungkap Wayne.




Simak Video "Rumah Apung, Pacitan"
[Gambas:Video 20detik]
(elk/krs)
BERITA TERKAIT