Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 18 Mar 2020 19:35 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Kisah Pilu di Balik Mal 'Hantu' di Amerika Serikat

Putu Intan Raka Cinti
detikTravel
Kisah Pilu di Balik Mal Hantu di Amerika Serikat
Randall Park Mall yang kini terbengkalai (Foto: Seph Lawless/CNN)
Washington -

Di balik fenomena mal 'hantu' di Amerika Serikat, ada masalah ekonomi sampai sosial yang membayanginya.

Tempat wisata yang kehilangan pamornya lalu menjadi terbengkalai memang bukanlah fenomena yang mengagetkan. Hal seperti ini umum terjadi di berbagai tempat di dunia, tak terkecuali di negeri adidaya seperti Amerika Serikat (AS).

Negara superpower ini juga ternyata punya sejumlah tempat wisata yang akhirnya harus tumbang di tengah persaingan ekonomi dan teknologi. Salah satunya Mal Rendall Park di Ohio yang kini jadi mal 'hantu'.

Sebelum terbengkalai, Mal Rendall Park yang dibuka pada 1976 pernah menjadi pusat retail dan hiburan termegah se-AS. Mal ini bahkan menjadi mal indoor terluas di negara tersebut dimana lebih dari 200 toko menjajakan dagangan di sana.

Mal ini muncul tepat di masa AS memang sedang bernafsu dalam membangun mal. Pengembang mal ini yaitu Edward J. DeBartolo Sr. bahkan berambisi menjadikan mal ini bak 'kota dalam kota'.

Sayangnya pada 2009, Mal Rendall Park ditutup. Berbagai faktor menyebabkan mal ini tumbang, di antaranya penurunan bisnis dan dampak dari resesi hebat yang menimpa Amerika di 2000-an akibat perkembangan teknologi.

Kisah Pilu di Balik Mal 'Hantu' di Amerika SerikatSalah satu mal terbengkalai di Ohio, Rolling Acress Mall yang tutup pada 2008. (Foto: Seph Lawless/CNN)

Seorang fotografer yang punya spesialisasi dalam mengabadikan tempat-tempat terbengkalai, Seph Lawless, berkesempatan untuk memotret kondisi terkini dari Mal Rendall Park.

Dilansir dari CNN, Lawless punya kenangan tersendiri dengan mal itu. "Saya punya beberapa memori masa kecil seperti berjalan-jalan bersama teman-teman, pergi ke toko-toko dan melihat-lihatnya," katanya.

"Mal adalah ruang komunal, mal adalah ruang bercakap-cakap raksasa sebelum ada internet," ia melanjutkan.

Lawless menyukai kegiatan fotografi tempat terbengkalai karena baginya foto itu menjadi sumber kenyamanan dan nostalgia. Selain mal, Lawless juga sudah memotret berbagai rumah sakit, taman bermain, dan sekolah yang ditinggalkan.

"Orang-orang yang tinggal di antara reruntuhan ini adalah orang Amerika yang paling miskin dan kehilangan hak pilihnya di seluruh negeri, "kata Lawless.

"Saya tahu bahwa masalah mereka juga diabaikan," ujarnya.

Kisah Pilu di Balik Mal 'Hantu' di Amerika SerikatHawthorne Plaza Shopping Center di Hawthorne, California yang terbengkalai kini jadi tempat syuting film. (Foto: Seph Lawless/CNN)

Lawless tak sekadar memotret bangunan-bangunan mal mangkrak. Ia juga membukukan potret dari 20 mal 'hantu'. Buku itu ia beri judul 'Abandoned Malls of America' (Mal-mal Amerika Terbengkalai).

Beberapa mal saat ini telah dihancurkan, termasuk tiga mal di Ohio yang menjadi memori masa kecil Lawless. Mal-mal itu diruntuhkan dan dibangun kembali menjadi gedung Amazon.

"Amazon memiliki peran besar dalam runtuhnya mal dan toko pada umumnya, "katanya.

Resesi hebat di akhir tahun 2000-an telah membuat sejumlah mal terpaksa tutup karena adanya perubahan kebiasaan belanja konsumen dari belanja di toko menjadi belanja online.

Berdasarkan laporan dari Credit Suisse pada 2017, diperkirakan seperempat dari 1.211 mal di AS akan ditutup pada 2022. Hal ini menjadi masalah nasional dan melalui buku karya Lawless terlihat bahwa hal tersebut berdampak di setiap negara bagian, mulai dari Los Angeles, Birmingham, sampai Alabama.

Lenoir Mall di Carolina Utara. Lenoir Mall di Carolina Utara. (Foto: Seph Lawless/CNN)

Mal yang tutup itu juga berdampak pada perekonomian penduduk di sekitarnya. Lawless bercerita mengenai penduduk yang bekerja dalam layanan pembuangan sampah dan pembersihan salju. Maka ketika mal itu tumbang, masyarakat juga terpukul.

Melalui foto-foto Lawless juga terlihat, mal terbengkalai itu bahkan menjadi korban vandalisme. Banyak orang masuk ke area mal lalu mencorat-coret atau memecahkan kaca.

Selain itu mal juga dibiarkan dipenuhi sarang laba-laba serta properti mal seperti air mancur hingga papan nama yang dibiarkan begitu saja. Hal ini tentu menambah kesan seram dari bangunan yang ditinggalkan itu.

Melihat adanya tren penutupan mal ini, kemudian timbul pertanyaan: apa yang bisa dilakukan dengan bangunan yang tersisa?

Beberapa mal tutup di AS telah dialihfungsikan untuk kegiatan lain. Misalnya Highland Mall di Austin Timur, Texas telah menjadi ruang komunitas kampus, Lexington Mall di Lexington, Kentucky telah dirancang menjadi gereja besar, dan Vila Italia Mall di Lakewood, Colorado telah dibangun kembali menjadi plaza dan taman terbuka.



Simak Video "Pondok Indah Mall Beroperasi, Toko Pakaian Masih Sepi Pembeli"
[Gambas:Video 20detik]
(pin/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA