Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 25 Okt 2020 22:47 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Mesir Hadirkan Spot Baru untuk Melihat Piramida Giza

Johanes Randy Prakoso
detikTravel
Restoran baru menghadap Piramida Giza.
Restoran menghadap Piramida Giza di Mesir (REUTERS/Amr Abdallah Dalsh)
Kairo -

Negara Mesir identik dengan Piramida Giza yang tersohor. Memanjakan traveler, Pemerintah Mesir hadirkan spot baru menghadap Piramida tersebut.

Dilansir detikTravel dari Reuters, Mesir baru saja memperkenalkan sebuah fasilitas baru di pinggiran Kairo yang berlokasi persis menghadap Piramida kenamaan Giza.

Fasilitas baru itu adalah sebuah restoran bernama Pyramids Lounge yang baru saja dibuka pada hari Selasa malam kemarin (20/10). Berdiri di atas lahan seluas 1.341 meter persegi, restoran itu menjadi jawaban Pemerintah Mesir akan sebuah servis yang berkualitas.

"Salah satu masalah yang sering muncul adalah orang-orang mengatakan tiadanya servis spesial untuk turis. Dalam artian tidak ada kafetaria, tidak ada restoran, tak ada sesuatu yang bisa diberikan pada turis," ujar Sekjen Kementerian Barang Antik Mesir, Mostafa Waziri.

Restoran baru menghadap Piramida Giza.Piramida Giza (REUTERS/Amr Abdallah Dalsh)

Lebih lanjut, fasilitas baru itu dibuat sedemikian rupa untuk menjaga orisinalitas Piramida Giza. Menurut Mostafa, restoran berkonsep terbuka itu juga menawarkan panorama yang tak dapat ditandingi di mana pun.

Setelah restoran, wacananya Museum Grand Egyptian akan segera dibuka tahun depan di seberang Piramida Giza. Di mana museum itu digadang-gadang sebagai yang terbanyak memiliki koleksi arkeologi.

Projek pariwisata itu juga diaminkan oleh pebisnis Mesir sekaligus pengembang kawasan itu, Naguib Sawiris. Di mana proyek itu merupakan bagian dari rencana jangka panjang untuk mengembangkan situs warisan dunia UNESCO sekaligus menghadirkan pengalaman lebih bagi turis.

Bagi Mesir, sektor pariwisata menyumbang sekitar 15% dari total GDP. Hanya saja, sektor tersebut kehilangan sekitar USD 1 miliar setiap bulan setelah terpaksa menutup diri akibat COVID-19.

(rdy/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA