Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 05 Jan 2021 11:00 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Keren! Pria Ini Bangun Rumah Mewah di Tengah Laut China Selatan

Putu Intan
detikTravel
Pria Ini Bangun Rumah Mewah di Tengah Laut China Selatan
Rumah apung milik Coastline. (Foto: Oddity Central)
Fujian -

Saking cintanya pada laut, seorang pria asal Fujian, China membangun rumah mewah di tengah laut. Meski tak mudah, ia sukses mendirikan rumah yang nyaman dan unik.

Adalah Coastline, seorang pebisnis yang menghabiskan uang hingga 400 ribu yuan atau sekitar Rp 861 juta untuk membangun rumah apung impiannya. Terletak di tengah Laut China Selatan, rumah berukuran 600 meter persegi bernuansa modern itu mengapung dengan gagahnya.

Coastline mengaku membangun rumah ini karena punya kedekatan emosional dengan laut. Ia menghabiskan masa kecilnya di sebuah pulau bernama Dongshan Country.

Ia sering memancing untuk mengisi waktu luang. Teman-temannya juga sering diajak untuk menikmati keindahan laut Dongshan.

Pria Ini Bangun Rumah Mewah di Tengah Laut China SelatanBagian dalam rumah apung. Foto: Oddity Central

Suatu hari di tahun 2018, ketika ia sedang bersantai dengan teman-temannya, ia bertemu dengan arsitek bernama Dong Xinmeng. Mereka kemudian mulai mengobrol tentang rumah apung.

Dilansir dari Oddity Central, Senin (4/1/2021) bermula dari obrolan tak terduga itu, keduanya sepakat untuk mewujudkan imajinasi tentang rumah apung menjadi kenyataan.

Desain rumah ini terinspirasi dari rakit besar yang sering ditemukan di Dongshan. Mulanya mereka membangun rumah ini di perairan dangkal di sebuah dermaga.

Akan tetapi air pasang membuat mereka kesulitan membangun. Mereka pun akhirnya menyeret rakit besar itu ke tengah laut dan mulai mengerjakan rumah.

Pria Ini Bangun Rumah Mewah di Tengah Laut China SelatanBagian luar rumah bisa digunakan untuk bersantai. Foto: Oddity Central

Perjuangan mereka belum berakhir. Di tengah laut, rakit yang mereka buat justru terus berayun-ayun diterjang angin kencang. Mereka kemudian menggunakan baja agar bangunan kokoh.

Selesai soal bangunan, Coastline dan tim menghabiskan waktu sekitar satu tahun untuk menyelesaikan masalah listrik. Awalnya mereka mencoba menghubungkan listrik menggunakan tenaga air terdekat tapi nelayan yang kerap lalu lalang mencabut kabelnya.

Coastline kemudian bernegosiasi dengan nelayan agar jangan mencabut kabel itu. Kabelnya sendiri membentang sepanjang 3 km sampai ke dermaga dan berhasil tidak dicabut hingga 1 tahun.

Supaya rumah apung tak gentar diterjang badai, bangunan ini ditopang oleh 16 jangkar logam. Masing-masing beratnya sekitar satu ton.

Jika pemilik ingin memindahkan rumah mereka harus menaikkan jangkar ini dan menggunakan perahu motor untuk menarik rumah ke lokasi barunya.

Selanjutnya: rumah digunakan untuk karantina mandiri saat pandemi COVID-19

Selanjutnya
Halaman
1 2
BERITA TERKAIT
BACA JUGA