Upacara adat ini sudah berlangsung sejak masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I, tepatnya antara tahun 1755 hingga 1792. Ritual ini digelar sebagai bentuk permohonan keselamatan warga Gamping. Tradisi yang sudah berumur hampir seusia Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini bermula dari kisah sepasang pengantin yang meninggal di Gunung Gamping.
Pada pelaksanaannya, upacara adat ini dibagi oleh beberapa tahap, yaitu midodareni pengantin bekakak, kirab bekakak, penyembelihan pengantin bekakak, dan sugengan ageng. Uniknya, dalam upacara ini ada dua pasang pengantin yang dibuat, salah satu pasang dihias bergaya Solo dan yang lainnya dihias bergaya Yogyakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keunikan lain akan muncul saat upacara ini berlangsung. Di tengah-tengah ritual, biasanya akan muncul sekelompok anak yang berperan sebagai anak genderuwo. Anak-anak ini berjumlah 50-an anak dan didampingi sepasang genderuwo. Mereka bertugas mengawal pengantin bekakak.
(gst/gst)
Komentar Terbanyak
Ada Gerbong Khusus Merokok di Kereta, Kamu Setuju?
Terpopuler: Dedi Mulyadi Terancam Dicopot, Ini Penjelasan DPRD Jabar
Cerita Tiara Andini Menolak Tukar Kursi sama 'Menteri' di Pesawat Garuda