Mengunjungi Waruga, Rumah Abadi Nenek Moyang Minahasa

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Mengunjungi Waruga, Rumah Abadi Nenek Moyang Minahasa

Putri Rizqi Hernasari - detikTravel
Senin, 12 Mar 2012 12:29 WIB
loading...
Putri Rizqi Hernasari
Komplek pemakaman (dok. Endi Hamid/dtraveller)
Gerbang masuk (dok. Farchan Noor Rachman/ACI)
Contoh ukiran (dok. Endi Hamid/dtraveller)
Susunan makam (dok. Farchan Noor Rachman/ACI)
Ilustrasi pembuatan waruga zaman dulu (dok. Endi Hamid/dtraveller)
Mengunjungi Waruga, Rumah Abadi Nenek Moyang Minahasa
Mengunjungi Waruga, Rumah Abadi Nenek Moyang Minahasa
Mengunjungi Waruga, Rumah Abadi Nenek Moyang Minahasa
Mengunjungi Waruga, Rumah Abadi Nenek Moyang Minahasa
Mengunjungi Waruga, Rumah Abadi Nenek Moyang Minahasa
Jakarta - Ada satu tempat yang tidak boleh dilewatkan para wisatawan jika sedang berada di Sulawesi Utara, waruga namanya. Waruga adalah komplek pemakaman nenek moyang Minahasa. Uniknya, kuburan yang ada di sini dalam bentuk peti batu.Waruga adalah kuburan batu yang menjadi ciri khas peninggalan nenek moyang suku Minahasa. Terletak di Desa Sawangan, Kabupaten Minahasa, Sulut, Waruga adalah makam yang terbuat dari batu berbentuk serupa rumah.Waruga memiliki lebar 1 meter dan tinggi 1-2 meter. Bagian atasnya dibentuk seperti atap rumah, dan bagian bawahnya berbentuk kotak dengan ruangan di dalamnya. Ruangan inilah yang digunakan untuk menyimpan mayat.Mayat yang diletakkan di dalam waruga harus dalam posisi jongkok, seperti janin di dalam kandungan. Posisi ini menunjukkan kalau manusia sejak dalam kandungan hingga meninggal, dalam posisi yang sama. Perlambang siklus kehidupan dan kematian manusia berasal dari dan ke tempat yang sama. Selain itu, mayat juga harus menghadap utara yang berarti nenek moyang suku Minahasa berasal dari utara.Jika diamati, setiap waruga memiliki ukiran yang berbeda di dinding batunya. Ternyata, ini dibuat sebagai simbol yang menandakan strata sosial atau profesi. Sebagai contoh, bila yang meninggal adalah keturunan bangsawan, maka ukiran yang dibuat berupa manusia berjubah. Ada juga ukiran binatang pada waruga, menandakan kalau yang meninggal dulunya adalah seorang pemburu.Soal pembuatan waruga, semua diserahkan kepada keluarga. Mulai dari memilih batu, memahat, bentuk, ukuran, hingga proses memasukkan mayat dilakukan oleh keluarga.Sayangnya, penggunaan waruga yang telah dilakukan sejak abad ke-9, harus dihentikan sejak tahun 1860. Penghentian ini berhubungan dengan adanya wabah tipus dan kolera yang diduga berasal dari waruga.Sekarang, komplek pemakaman waruga telah menjadi tempat wisata sejarah yang menarik. Jika ingin berkunjung ke sini, Anda bisa mengambil rute Manado-Sawangan dengan jarak sekitar 24 km.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads