Kedua tempat itu adalah Pic de Bugarach di Prancis dan Guatemala City di Guatemala, seperti dilansir dari News Australia, Selasa (20/11/2012). Kedua tempat ini seperti jadi 'eskapisme' menjelang hari kiamat yang mereka percayai itu.
Tempat pertama yakni Pic de Bugarach adalah sebuah gunung di barat daya Prancis. Gunung ini terbilang unik, karena bebatuan di bagian atas berumur lebih tua dari bebatuan di bagian bawah. Konsep terbalik seperti ini mencerminkan mitologi New Age dan Cathar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi hal ini, pemerintah Prancis telah mengumumkan larangan untuk mendatangi Pic de Bugarach. Perwakilan pemerintah setempat, Eric Freysselinard, berkata akan memblokir akses ke gunung tersebut untuk keselamatan masyarakat setempat. Hal itu juga dilakukan untuk menghindari kerusuhan antara para penganut New Age, para wartawan, juga wisatawan.
"Kami memang mengharapkan kedatangan orang-orang yang percaya kiamat, tapi dengan jumlah yang sangat terbatas. Sebaliknya, kami mengharapkan lebih banyak orang yang datang karena penasaran. Bahkan kami mengharapkan lebih banyak wartawan," tutur Freysselinard di kota terdekat yakni Carcassone.
Terkait banyaknya orang yang akan 'berlindung' di gunung tersebut, pemerintah setempat juga menyiagakan 100 polisi dan pemadam kebakaran. Mereka akan mengontrol kondisi di desa mungil bernama sama yakni Bugarach, yang ada di kaki gunung tersebut. Kalau sudah terlalu banyak orang yang naik ke atas, mereka akan langsung menutup akses menuju gunung tersebut.
Nah, tempat perlindungan kedua bukanlah gunung atau tempat terpencil seperti Pic de Bugarach. Tempat kedua adalah adalah Guatemala City, ibukota Negara Guatemala. Setengah populasi di negara ini adalah keturunan suku Maya.
Menjelang 'kiamat', Guatemala City akan jadi tuan rumah sebuah acara besar sebelum dunia berakhir. Sementara itu, beberapa tur operator mempromosikan liburan bertema kiamat.
Tapi rupanya, Komunitas suku Maya di Guatemala yaitu Oxlaljuj Ajpop, tidak menanggap baik agenda ini. Mereka menuduh pemerintah dan tur operator mengeksploitasi mitos ramalan kalender suku Maya semata-mata untuk keuntungan ekonomi.
(sst/sst)












































Komentar Terbanyak
Desa dengan Hujan Abadi, Hampir Tak Pernah Melihat Matahari
Adzan Menggema di London, Ini Sudut Paling Menggetarkan Hati Muslim di Whitechapel
3 Hari Festival Songkran, 95 Orang Meninggal