Tatung atau peserta pawai yang dibuat dalam kondisi trance, kerasukan dewa atau leluhur sesuai kepercayaan Tionghoa. Mereka yang kesurupan kali ini terdiri mulai dari manula, wanita, remaja bahkan juga anak-anak.
Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Kalimantan Barat Christiandi Sanjaya mengatakan perayaan kali ini bisa dikatakan sebagai pesta multi etnik pula. Mengingat perayaan tak hanya melibatkan masyarakat Tionghoa, tapi juga etnis Melayu dan Dayak.
Namun demi toleransi pula akhirnya perayaan yang dimulai pukul 09.30 WIB itu bisa dituntaskan pada pukul 11.00 WIB siang demi memberikan kesempatan bagi kaum muslim unuk salat Jumat.
"Saya juga mengucapkan terima kasih atas kehadiran Ibu Menteri Parekraf yang berhasil merayu Presiden untuk hadir di Singkawang, lebih dulu," kata Christiandi yang asli kelahiran Singkawang, namun sudah lama tak menonton atraksi ini.
Dalam sambutannya, Menparekraf Mari Elka Pangesti yang membuka acara dengan pemukulan tambur mengatakan, bukan hanya perayaan Cap Go Meh saja yang layak dipertahankan. Singkawang penuh budaya kreatif yang menarik.
"Singkawang bisa menjadi kota wisata berbasis kreatif. Apalagi ini juga kota Seribu Kelenteng juga industri keramik yang khas dengan pembakaran yang dipertahankan dengan tungku naganya," kata Mari.
Tungku naga, kata Mari, selain di Singkawang cuma ada di Tjing The Tjen, Beijing.
(ptr/fay)












































Komentar Terbanyak
Wanita Palembang Nekat Nyamar Jadi Pramugari, Batik Air Buka Suara
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Melawai Plaza: Markas Perhiasan Jakarta yang Melegenda Itu Tak Lagi Sama