Rasanya, tak terhitung banyak kegiatan wisata yang bisa dilakukan di Indonesia. Turis bisa menyelam saat datang ke pantai, trekking saat pergi ke gunung, bermain olahraga air seperti rafting di sungai berarus, menyusuri gua atau mengenali ratusan suku-suku yang punya tradisi tersendiri.
"Memang, jumlah kunjungan turis ke Indonesia masih kalah jauh dari turis yang datang ke Malaysia. Tapi kalau soal lama menetap, kita lebih unggul," kata Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenparekraf, Firmansyah Rahim dalam acara Rakernas GIPI (Gabungan Industri Pariwisata Indonesia) 2014 di Golden Phoenix, Merlynn Park Hotel, Jl KH Hasyim Ashari No 29, Jakarta Pusat, Selasa (25/2/2014).
Firmansyah menambahkan, Kemenparekraf punya data yang menghitung berapa lama seorang turis menetap di suatu destinasi di Indonesia. Contohnya, turis Malaysia bisa menetap hingga 9 hari.
"Ada dua cara supaya turis betah menetap di Indonesia, pertama perbanyak atraksi wisata dan perbaiki pelayanan," ungkapnya.
Menurut Firmansyah, ada baiknya suatu daerah menambahkan atraksi wisata untuk turis. Sehingga, turis tidak hanya datang ke pantai atau lebih banyak menghabiskan waktu di hotel.
"Contohnya seperti di Bandung itu, ada Trans Studio Bandung. Jadi turis bisa lebih lama tinggal ke Bandung untuk datang ke sana," tutur Firmansyah menjelaskan.
Soal perbaikan layanan menjadi tugas dari masing-masing Pemda. Pelayanan yang makin baik pasti membuat turis makin betah tinggal di suatu destinasi.
"Peran dua cara berikut bisa dimulai dari dunia usaha wisata," tutupnya.
(sst/sst)












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Agar Turis Betah, Pemerintah Malaysia Minta Warga Lebih Ramah