Banyaknya satwa yang mati sudah terjadi sejak sebelum dikelola Pemkot Surabaya. Diduga kematian satwa ini ditimbulkan karena adanya konflik antar pengurus KBS sejak 1981 hingga berujung dicabutnya izin pengurus oleh Kementerian Kehutanan setahun kemudian.
Yang terjadi selama itu adalah saling kudeta kepengurusan dari Mohammad Said bersama Stany Soebakir 1981-2001, berlanjut ke Kamilo Kalim dan drh I Komang, balik lagi ke Stany Soebakir pada 2003. Ribut lagi pada 2009 dan dioper ke Basuki Rekso Wibowo sebagai Ketua Taman Flora dan Satwa Surabaya (TFSS), pengurus resmi KBS. Kemudian beralih ke Soedjatmiko dan Sadewo. Sejak saat itu, banyak hewan yang tidak mendapat perhatian karena konflik pengurus sehingga banyak koleksi satwa yang mati.
Kemenhut pada 22 Februari 2010 mengambil alih dan membentuk Tim Pengelola Sementara (TPS) yang diketuai Tony Sumampouw. Selama dikelola TPS, masih banyak satwa yang mati serta banyak satwa yang dibarter meski demi memajukan maupun memperbaiki sarana KBS.
Dua tahun kemudian, Walikota Tri Rismaharini mengirim surat ke Presiden SBY yang ditembuskan ke Kemenhut, Mendagri maupun ke BPK untuk meminta izin pengelolaan KBS. Upaya itu membuahkan hasil, dengan hadirnya Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) Kebun Binatang Surabaya, tapi mereka tetap berkoordinasi dengan BBKSDA Jatim dan Tim Pengelola Sementara KBS untuk pengelolaan satwa.
Kini, Pemkot Surabaya menyiapkan Rp 52 miliar untuk mengembangkan Kebun Binatang Surabaya. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, uang APBD sebesar Rp 5 miliar untuk KBS selama setahun sampai saat ini masih belum terserap habis.
"Akan kita lihat dulu apa bisa ditambah atau tidak. Karena yang kemarin (anggaran APBD 2013 untuk KBS) belum habis," ujar Risma kepada wartawan saat melakukan sidak KBS, Rabu (26/3/2014).
Risma menjelaskan, saat ini KBS memiliki Rp 4 miliar dari hasil penjualan tiket masuk yang juga belum digunakan. Upaya perbaikan KBS paling mendesak adalah perbaikan kandang satwa yang sebagian besar peninggalan Belanda. Kemudian mereka mengejar izin konservasi.
"Paling mendesak adalah kandang. Karena kondsi kandang merupakan salah satu hasil evaluasi yang paling mendesak selain kesejahteraan satwa. Soal izin kita disuruh membuat studi lingkungan, Insya Allah 23 April sudah selesai dan kita bisa dapat segera izin konservasinya," harap Risma.
Dalam kesempatan yang sama, Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) pengelola Kebun Binatang Surabaya menargetkan indeks kesembuhan satwa sakit mencapai 70 persen hingga akhir tahun 2014.
"Kita hanya bisa menjaga dan yang bisa kita lakukan adalah indek kesembuhan bagi yang sakit dari tahun lalu sebesar 63 persen, kita harap tahun ini bisa mencapai 70 persen," kata Dirut PDTS, Ratna Achjuningrum di sela sela mendampingi Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.
Dengan langkah tersebut juga diharapkan angka kematian satwa akibat sakit bisa ditekan. Ia menyebut angka kematian satwa di KBS sejak 2006 terus mengalami penurunan signifikan.
"Dari angka sekitar 500 satwa turun terus menerus siapapun pengurusnya itu dari tahun ke tahun turun. Sehingga 2013 itu angkanya cuma 229 kita usahakan angkanya terus menurun," ungkapnya.
Wah, semoga saja segala upaya itu bisa memperbaiki kondisi Kebun Binatan Surabaya. Banyak traveler yang menilai keberadaan KBS sangat penting sebagai sebuah destinasi wisata. Semoga KBS terus bertahan dan jadi tempat tujuan wisatawan. Kita tunggu saja kabar baiknya!
(shf/shf)












































Komentar Terbanyak
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Terungkap! Penyebab Kapal Dewi Anjani Tenggelam: Semua ABK Ketiduran
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun