Dari rilis Kemenparekraf yang diterima detikTravel, Jumat (2/4/2014) total kedatangan wisatawan mancanegara atau turis dalam triwulan pertama (Januari-Maret) 2014 mencapai 2.221.352 atau tumbuh 10,07% dibandingkan periode yang sama 2013 sebesar 2.018.059 orang. Di bulan Maret sendiri, Indonesia kedatangan 765.607 turis.
Jumlah kunjungan turis yang rata-rata sebesar 740.000 per bulan tersebut merupakan rekor baru yang belum pernah tercapai. Hal ini sekaligus menguatkan pencapaian target pariwisata tahun ini sebesar 9,3 juta-9,5 juta wisatawan mancanegara yang kemungkinan akan terlampaui.
"Trend tiga bulan ini sangat positif, diharapkan bisa terus bertahan sampai akhir tahun. Kita semakin optimis target capaian wisman (wisatawan mancanegara) tahun ini akan terlampaui," kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Mari Elka Pangestu.
Menurut Mari, data BPS menunjukkan dalam tiga bulan di awal 2014 ada tiga pintu masuk utama turis, yakni Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Ngurah Rai Bali, dan Batam. Tiga bandara itu menunjukkan pertumbuhan positif masing-masing sebesar 6,48%, 14,42%, dan 7,50%. Sedangkan yang sangat menonjol, adalah pintu masuk Bandara International Lombok (BIL) tumbuh 214,7%, Bandara Adisucipto Yogyakarta 44,0% dan Bandara Husein Sastranegara Bandung 23,03%.
Pada Januari-Maret lalu turis yang masuk melalui BIL sebanyak 15.954 orang, didominasi turis asal Australia sebanyak 4.962 orang. Turis Australia sebagian besar menggunakan maskapai penerbangan Jetstar yang membuka rute Lombok-Perth. Kunjungan turis Australia melalui BIL ke depan kemungkinan terus bertambah, seiring adanya rencana maskapai Jetstar akan membuka jalur baru BIL (Lombok)-Melbourne (Australia).
Hal serupa juga terjadi pada turis yang melalui Bandara Husein Sastranegara Bandung. Dalam tiga bulan pertama, terdapat 52.280 orang yang didominasi turis dari Malaysia dan Singapura sebanyak 38.067 orang dan 10.027 orang.
Bandara Adisucipto Yogyakarta sebanyak 23.221 turis juga didominasi dari Malaysia dan Singapura sebesar 9.730 dan 3.515 orang. Sebagian besar mereka melalui kedua bandara tersebut karena menggunakan maskapai penerbangan budget atau low cost carrier.
Yang juga menggembirakan, kunjungan turis dari tiap negara tertentu mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi. Turis dari China misalnya, dalam tiga bulan pertama ini sudah mencapai 257.304 orang atau naik 32% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 194.580 orang. Hal tersebut berarti China menjadi sumber wisatawan mancanegara ketiga terbesar dan menjadi lebih besar dari Australia yang tahun lalu yang berada di peringkat tiga besar.
Sementara itu, turis asal Singapura naik 13,78% menjadi 306.836 orang, Australia naik 13,77% menjadi 233.378 orang, Malaysia naik 12,10% menjadi 315,610 orang. Berdasarkan kebangsaan, kunjungan turis pada Maret 2014 dibandingkan bulan Maret 2013 yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Arab Saudi sebesar 80,44%, Uni Emirat Arab 62,01%, Bahrain 44,07%, China 32,32%, dan Mesir 31,67%.
Secara kumulatif, Januari-Maret 2014 dibandingkan Januari-Maret 2013 yang mengalami pertumbuhan tertinggi, yaitu Bahrain 77,13%, Uni Emirat Arab 64,16%, Arab Saudi 59,77%, Mesir 32,38% dan China 32,24%.
Mari mengatakan, pada triwulan pertama ini ada sejumlah fokus pasar yang mengalami penurunan yaitu Jepang (-3,69%), Hongkong (-5,20%), dan Rusia (-8,47%). Mengenai penurunan wisatawan dari Jepang, menurut Mari, besar kemungkinan terkait dengan trend berkurangnya jumlah masyarakat Jepang yang melakukan perjalanan ke luar negeri (outbond). Berdasarkan data statistik, sejak Januari kunjungan warga Jepang ke luar negeri turun sebesar 1,8% pada Januari dan 0,8% pada Februari lalu.
Menurut analisa Direktorat Pengembangan Pasar dan Informasi Pariwisata Kemenparekraf, pasar Russia sejak tahun lalu menunjukkan trend menurun, hal ini kemungkinan karena kondisi ekonomi Russia tengah mengalami stagnasi. Sehingga, mereka lebih memilih berperian ke destinasi terdekat.
"Kami terus mengkaji penyebab turunnya wisman dari fokus pasar tersebut untuk segera dilakukan langkah konkret melalui strategi pemasaran dan promosi atau meningkatkan konektivitas penerbangan," kata Mari.
(aff/aff)










































