Turis Australia Dinilai Kurang Cocok Diberikan Bebas Visa

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Turis Australia Dinilai Kurang Cocok Diberikan Bebas Visa

- detikTravel
Kamis, 06 Nov 2014 13:31 WIB
Turis Australia Dinilai Kurang Cocok Diberikan Bebas Visa
(dok. detikFoto)
Jakarta - Menpar Arief Yahya mengeluarkan kebijakan bebas visa untuk turis dari 5 negara: Rusia, Tiongkok, Jepang, Korsel dan Australia. Namun bebas visa untuk turis Australia dinilai kurang pas, kenapa?

Dalam Rapat Koordinasi Gabungan dengan Kemenko Kemaritiman, Rabu kemarin Menpar Arief Yahya dan Menko Maritim Indroyono Susilo mengumumkan bahwa Rusia, Tiongkok, Jepang, Korsel dan Australia akan dibebaskan visanya oleh pemerintah Indonesia. Arief membidik target optimis sebanyak 400-500 ribu kunjungan wisatawan dengan devisa pariwisata USD 11,3 juta (Rp 136,8 miliar).

Pakar pariwisata Universitas Indonesia, Dr Drs Jajang Gunawijaya MA berpendapat, tak semua negara ini cocok untuk dibebaskan visanya. Khusus Australia, Jajang berpendapat kebijakan Menpar kurang benar. Jumlah turis Australia yang datang ke Indonesia sangat banyak. Bali, Lombok dan Banyuwangi menjadi destinasi favorit mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bali seperti Tanah Air kedua mereka (turis Australia-red). Mereka tak keberatan mengeluarkan uang untuk visa. Kita jadi kehilangan sangat banyak pendapatan dari visa mereka," papar Jajang kepada detikTravel, Kamis (6/11/2014).

Untuk Tiongkok dan Rusia, menurut Jajang, kebijakan itu masuk akal karena Indonesia sedang memperkenalkan diri kepada lebih banyak turis asal 2 negara tersebut.

"Tiongkok menjadi pangsa pasar besar bagi Indonesia. Pada 2007 saja, 35 juta orang Tiongkok datang ke Asia Tenggara. Tahun 2012 dan 2013 angkanya lebih banyak lagi," tuturnya

Semakin banyak turis Tiongkok yang datang, semakin banyak juga belanjanya. Lamanya tinggal dan uang yang dikeluarkan turis Tiongkok tergolong banyak, sama halnya dengan turis Rusia.

"Turis Rusia juga banyak yang ke Indonesia. Mereka datang ke Bali, Yogya. Tak apa-apa kita genjot lebih banyak turis Tiongkok dan Rusia lewat bebas visa," sambung Jajang yang menjabat sebagai Ketua Program Vokasi Pariwisata UI ini.

Lalu bagaimana dengan turis Korsel dan Jepang? Jajang menganggap pembebasan visa untuk turis 2 negara itu juga masuk akal, terutama Jepang.

"Mereka juga sudah membebaskan visa untuk kita. Ini semacam timbal balik, tak ada salahnya," jelasnya.

Lalu, apakah kebijakan ini patut diberlakukan dalam jangka waktu lama? Jajang berpendapat, ada baiknya visa untuk turis Tiongkok dan Rusia nantinya diberlakukan kembali.

"Kita lihat dulu sekitar 2 tahun ini, apakah pengeluaran turis dari 5 negara ini bisa menutup hilangnya uang visa. Turis Tiongkok dan Rusia bebas visa baiknya untuk perkenalan saja. Apalagi jumlah kelas menengah di Tiongkok selalu bertambah, mereka pasti tak keberatan bayar visa nantinya," papar dia.

(shf/shf)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads