Yang Perlu Traveler Tahu, Soal Awan Cumulonimbus

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Yang Perlu Traveler Tahu, Soal Awan Cumulonimbus

- detikTravel
Selasa, 30 Des 2014 12:50 WIB
Yang Perlu Traveler Tahu, Soal Awan Cumulonimbus
Awan cumulonimbus (Thinkstock)
Jakarta -

Salah satu faktor yang diduga terkait hilangnya AirAsia QZ 8501, adalah awan cumulonimbus. Awan ini memang menjadi yang ditakutkan para pilot. Traveler pun sebenarnya bisa melihat ciri-cirinya dengan mata telanjang dan mengetahui bahayanya.

"Awan yang berbahaya bagi penerbangan pesawat adalah awan cumulonimbus. Awannya itu bisa menjulang tinggi, sekitar 13 km lebih dengan diameter 30 km," ujar Halim Murahman dari bagian Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Bandung kepada detikTravel, Selasa (30/12/2014).

Halim menambahkan, sebenarnya awan cumulonimbus bisa dilihat dengan mata telanjang. Bentuknya membumbung tinggi dan terlihat seperti awan yang sedang mendung. Hanya saja, warnanya lebih hitam dan ukurannya lebih besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau awan mendung kelihatan hanya bagian bawah saja berwarna hitam. Tapi kalau awan cumulonimbus, itu semuanya berwarna hitam," katanya.

Menurut pria yang sudah bekerja di LAPAN Bandung sejak tahun 1990-an tersebut, awan cumulonimbus selalu muncul di saat musim penghujan. Awannya juga berada di seluruh kawasan di Indonesia, khususnya berada di atas laut. Lalu, apa bahayanya awan cumulonimbus?

"Tekanan udaranya rendah, angin kencang, ada petir dan bisa terjadi angin puting beliung di dalam awannya," kata Halim.

Tapi ternyata, ada yang harus lebih diwaspadai selain awan cumulonimbus. Halim menegaskan, awan-awan cumulonimbus bisa membentuk suatu kumpulan dan menjadi lebih besar dan lebih berbahaya. Itu disebut dengan nama supercell.

"Supercell adalah gabungan dari awan cumulonimbus. Ini adalah yang paling bahaya, karena kita benar-benar tidak bisa menduga ada apa di dalamnya," tutur Halim.

Meski begitu, industri penerbangan sudah mengantisipasi soal awan cumulonimbus dan supercell. Kokpit pesawat sudah dilengkapi dengan radar cuaca yang bisa mendeteksi kondisi awan dan cuaca. Ditambah dengan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sudah meminimalisir risiko-risiko yang dihadapi pesawat selama penerbangan.

"Kita harus terus memantau kondisi alam sebelum terbang," tutup Halim.

(aff/aff)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads