Asal tidak memberatkan, itulah yang jadi pertimbangan traveler yang setuju dengan oleh-oleh. Menurut salah seorang traveler bernama Barbara, membawa oleh-oleh sama sekali tak memberatkan. Asal tak terlalu besar. Menurutnya, oleh-oleh gantungan kunci, magnet kulkas, kopi atau teh khas setempat tak masalah untuknya.
"Kalau banyak, selama bisa dipaketin masih nggak apa-apa buat aku," lanjut Barbara kepada detikTravel, Jumat (9/1/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama nggak terlalu besar. Kalaupun besar bisa dilipat atau digulung, itu nggak apa-apa. Oleh-oleh maksimal 2 kg," kata Joko.
Beda lagi dengan pemikiran Amanda. Menurutnya oleh-oleh lebih dari sekadar buah tangan. Dengan membawa oleh-oleh, ia bisa membuat orang yang diberikan oleh-oleh jadi termotivasi untuk traveling.
"Karena kalau dapat oleh-oleh dari dalam atau luar negeri bisa nyemangatin mereka buat ikut pergi," tuturnya tulus.
Rori pun tak masalah membawa oleh-oleh. Karena menurutnya, oleh-oleh tak perlu mahal atau berat, yang penting khas setempat. Dengan begitu, mereka yang diberi oleh-oleh punya kesan tersendiri.
Sama seperti Rori, traveler bernama Saiful pun berpendapat yang sama. Menurutnya, setelah pergi jauh sudah jadi kebiasaan untuk membawa sesuatu. Buah tangan tidak harus mahal dan repot. Makanan khas yang tak mudah basi atau tumpah pun cukup bagus dijadikan oleh-oleh.
Sedangkan Shinta membawa oleh-oleh dengan pertimbangan beda. Menurutnya, saat pergi ke suatu tempat, biasanya ada rasa ingin membawakan sesuatu yang khas ke orang-orang terdekat. Jadi membawa oleh-oleh bukanlah sesuatu yang memberatkan baginya.
"Asal yang diberi tak banyak menuntut dan isi oleh-oleh terserah saya," tutupnya.
(shf/fay)










































