#BoycottBali, Tak Ada Pembatalan Kunjungan Turis Australia

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

#BoycottBali, Tak Ada Pembatalan Kunjungan Turis Australia

- detikTravel
Selasa, 17 Feb 2015 14:50 WIB
#BoycottBali, Tak Ada Pembatalan Kunjungan Turis Australia
Turis Australia di Pantai Kuta (Gede/detikTravel)
Jakarta - Kampanye #BoycottBali oleh netizen Australia bergulir terkait hukuman mati kelompok Bali Nine. Tapi sejauh ini, pihak maskapai dan situs booking online tidak melihat pembatalan kunjungan wisman Australia ke Bali.

Rencana hukuman mati WN Australia yang merupakan pengedar narkoba 'Bali Nine' oleh pemerintah Indonesia heboh di kalangan wisman dan media Australia. Media seperti Sydney Morning Herald, The Age, hingga Al Jazeera ramai memberitakan #BoycottBali, Selasa (17/2/2015).

Menlu Australia, Julie Bishop, mengungkapkan kepada media pekan lalu, agar wisatawan Australia mempertimbangkan kembali rencana liburan ke Bali terkait keputusan eksekusi dua warga negaranya. Bentuk responnya muncul dalam tagar #BoycottBali.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian, sejumlah travel agent mengatakan tidak ada peningkatan pada pembatalan penerbangan wisman Australia untuk berlibur ke Indonesia. Sejumlah ahli pariwisata memprediksi kalau penurunan jumlah kunjungan wisman Australia ke Bali akan sangat minimal.

Dari pihak maskapai Australia, Jetstar Airways, mengungkapkan kalau belum ada perubahan signifikan soal pemesanan liburan ke Bali. Situs booking online Lastminute.com.au juga mengatakan kalau pemesanan akomodasi dan penerbangan ke Bali tetap normal seperti biasa.

Seorang jubir salah satu pusat informasi penerbangan juga telah melakukan audit terkait pembatalan tiket penerbangan pada akhir pekan lalu. Hasilnya, ternyata tidak ada satu pun wisman Australia yang membatalkan kunjungan ke Bali untuk 6 bulan ke depan.

Pakar risiko pariwisata dari University of Queensland, Brent Richie, mengatakan kalau banyak orang memilih destinasi tujuan berdasarkan faktor cuaca, pemandangan, dan keamanan. Wisatawan yang ingin berkunjung ke Indonesia akan lebih memeperhatikan aspek personal, seperti terorisme dan cuaca buruk.

Ditambahkan oleh Brent, sejumlah kecil wisatawan mungkin akan terpengaruh oleh seruan boikot dan membatalkan liburan ke Indonesia. Namun hal tersebut akan mereda dengan sangat cepat.

Adapun Dr Glen Croy dari Monash University menjelaskan, kalau seruan boikot hanya akan menimbulkan dampak kecil pada bidang pariwisata, dimana dampaknya tidak akan langsung dirasakan. Terlebih lagi, wisatawan merencanakan liburan jauh hari sebelumnya.

(rdy/fay)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads