Turis di Tiongkok Bisa Lebih Rusuh Kalau Pesawat Delay

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Turis di Tiongkok Bisa Lebih Rusuh Kalau Pesawat Delay

- detikTravel
Jumat, 20 Feb 2015 15:50 WIB
Turis di Tiongkok Bisa Lebih Rusuh Kalau Pesawat Delay
Penumpang mengamuk di Bandara Changsui, Tiongkok (AFP)
Beijing -

Kekacauan penerbangan Lion Air, harus jadi pelajaran. Jangan sampai maskapai menelantarkan penumpang. Traveler di Tiongkok bisa lebih rusuh lagi ketika menghadapi masalah yang sama. Jangan sampai kejadian di Indonesia.

Berpergian naik pesawat menjadi tren yang meningkat tajam bagi para traveler di Tiongkok. Namun, pemerintah mengontrol ketat pembukaan jalur penerbangan. Akibatnya, sering terjadi penumpukan penumpang pada jalur penerbangan tertentu.

Beijing International Airport pun menjadi salah satu bandara dengan delay terbanyak di dunia. Tak hanya itu, Tiongkok juga menjadi negara dengan delay pesawat terbanyak di dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada Januari 2013 misalnya, kabut tebal musim dingin mengganggu jadwal 280 penerbangan di Bandara Internasional Changsui, Kunming, selatan Tiongkok. Sekitar 10.000 penumpang mengamuk. Dihimpun detikTravel dari berbagai sumber, Jumat (20/2/2015), ribuan penumpang menyerbu loket maskapai dan saling dorong dengan pegawai maskapai. Mereka merusak komputer di loket check in. Polisi bandara pun saling bentak, saling tunjuk dan harus mengamankan beberapa penumpang yang mengamuk.

BACA JUGA: 10 Ribu Penumpang Pesawat di China Kembali Rusuh

Para penumpang pesawat di Tiongkok dikenal punya kebiasaan marah yang berlebihan soal pesawat delay. Pada Oktober 2012, seorang kru maskapai Jetstar disandera sekitar 150 penumpang di Bandara Shanghai karena pesawat delay. Masih di tahun yang sama, bulan Agustus, 2 penumpang nekat membuka pintu darurat pesawat karena meminta ganti rugi pesawat delay.

Pada awal 2013, sekitar 20 orang penumpang nekat lari ke landasan pacu utama Bandara Internasional Shanghai. Mereka berada sekitar 20 meter dari pesawat Emirates. Aksi mereka ini dilakukan karena penundaan penerbangan selama 16 jam.

Semakin banyaknya golongan menengah di Tiongkok menjadikan pesawat sebagai transportasi utama. Tak heran maskapai pun butuh lebih banyak pesawat. Boeing misalnya, butuh sekitar 5.260 unit untuk 20 tahun ke depan.

Namun ramainya lalu lintas udara jangan sampai membuat traveler lupa diri, apalagi sampai menimbulkan kerusuhan. Pihak maskapai dan pemerintah pun harus bekerjasama mengatasi masalah ini, karena delay pesawat bukanlah hal yang sepele.

(sst/sst)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads