Peningkatan jumlah wisman diperkirakan akan terjadi sebagai dampak dari bebas visa turis 30 negara. Seiring banyaknya wisman yang datang, devisa pun seharusnya meningkat pesat. Tetapi, cara ini rupanya dinilai belum tentu ampuh untuk meningkatkan devisa pariwisata.
"Bisa saja berangan-angan seperti itu. Memang kalau wisatawan bawa uang rata-rata US$ 1.000 saja, kalau 1 juta wisatawan masuk betul US$ 1 miliar. Yang saya takutkan mereka menggunakan uang seadanya," ujar Dr Drs Jajang Gunawijaya MA, pakar pariwisata Universitas Indonesia dalam wawancara dengan detikTravel, Selasa (17/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dengan bebas visa, mendongkrak (wisman-red) itu positif. Tapi untuk mendatangkan wisatawan berkualitas itu saya pesimis," ujar Jajang.
Ia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan wisatawan berkualitas adalah mereka yang relatif memiliki uang, kelas menengah ke atas, terdidik, peduli dengan alam dan budaya serta tinggal di Indonesia dalam waktu yang cukup lama.
"Wisatawan berkualitas itu akan menggunakan tempat menginap yang baik, makan di restoran yang baik. Lama juga tinggal di negeri kita. Misalnya seminggu ke Bali, ke Yogyakarta 3 hari lalu ke Raja Ampat. Semakin lama tinggal, semakin banyak uang yang digunakan," jelas Jajang.
Menurut Jajang, kebijakan bebas visa akan lebih menarik buat para backpacker. Masalahnya, backpacker tidak membelanjakan banyak uang di Indonesia, karena mereka biasa berhemat.
Β
"Mereka menggunakan uang seadanya. Mereka bisa menginap di losmen atau rumah penduduk, bepergian dengan jalan kaki. Jangan sampai kebijakan bebas visa 30 negara tidak optimal karena wisatawan bermutu rendah," kata Jajang.
(krn/fay)












































Komentar Terbanyak
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Terungkap! Penyebab Kapal Dewi Anjani Tenggelam: Semua ABK Ketiduran