Melaui acara 'Polisi Sahabat Alam Penanaman Terumbu Karang Oleh Kapolda Banten di Perairan Tanjung Lesung', di Tanjung Lesung Beach Club, Banten, Boy Rafli mengungkapkan hobinya yang gemar diving. Dia pernah menyelam di Sorong, Raja Ampat, Jayapura, Maluku Utara dan Kepulauan Seribu.
"Papua itu terumbu karangnya masih alami, bagus sekali. Ikan dan karangnya berwarna-warni, merah, kuning dan hijau. Benar-benar bagus," ungkapnya dengan penuh kagum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di bawah laut itu luas dan kalau panik, satu alat lepas saja itu bisa celaka. Kita juga harus mengontrol diri agar tidak cepat turun ke bawah dan naik ke atas. Ada kepuasan tersendiri kalau diving," paparnya.
Namun sayang, Boy Rafli mengungkapkan kalau dunia bawah laut Indonesia terancam dengan nelayan yang menggunakan bahan peledak. Ekosistem biota laut, terutama terumbu karang akan mati!
"Dari Papua, Maluku sampai Kepulauan Seribu, masih ada nelayan yang memakai bahan peledak. Mereka hanya mencari keuntungan, tapi tidak memperhatikan aspek lingkungan," terangnya.
Satu lagi selain bahan peledak adalah soal limbah dari pabrik atau masyarakat sekitar pantai yang merusak laut. Seharusnya seperti kata Boy Rafli, harus ada sistem pengolahan limbah yang tepat.
"Masyarakat di sekitar daerah aliran sungai harus kita sadarkan dan sosialisasikan agar tidak mencemari laut," tegasnya.
Oleh sebab itulah, Kepolisian Banten di bawah naungannya membuat gerakan Polisi Sahabat Alam. Dalam tugasnya, polisi akan mengenalkan bagaimana cara masyarakat untuk menjaga laut dan melestarikannya.
"Polisi Sahabat Alam memiliki tujuan untuk membangun kesadaran dan mencintai lingkungan, baik hutan, gunung serta laut," tutupnya
(rdy/shf)












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Agar Turis Betah, Pemerintah Malaysia Minta Warga Lebih Ramah