"Dari kunjungan turis ke Indonesia, 10 % adalah turis Muslim. Sisanya, 80 % turis non Muslim. Apa mau kita mengambil risiko dan kehilangan angka 80 %?" ungkap Menpar Arief Yahya dalam pembukaan FGD Halal Tourism & Lifestyle 2015 di Merak Room, Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2015).
Arief memberikan contoh, turis yang datang ke hotel pasti tidak mau dicek KTP atau dokumen bukti nikah saat bermalam. Padahal, itu merupakan salah satu peraturan dari hotel syariah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lanjut Arief, kata-kaya syariah atau halal yang ditonjolkan biasanya diketahui turis non Muslim sebagai hal yang banyak larangan. Dia pun mengusulkan menggantinya dengan nama Universal Tourism.
Memang, dibutuhkan waktu yang tidak sedikit agar wisata halal mulai dikenal dan digerakan oleh Kemenpar. Butuh proses dan strategi yang tepat. Arief pun memberi nasihat.
"Saya tidak mau kalau terlalu bersemangat akan rugi," cetusnya.
(shf/fay)












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Struk Belanja Taiwan Bisa Bikin Turis Jadi Orang Kaya Mendadak!