Ini Tantangan & Strategi Wisata Syariah di Indonesia

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Ini Tantangan & Strategi Wisata Syariah di Indonesia

- detikTravel
Selasa, 12 Mei 2015 17:04 WIB
Ini Tantangan & Strategi Wisata Syariah di Indonesia
(Putri/detikTravel)
Jakarta - Wisata syariah, wisata muslim atau disebut wisata halal memang belum jelas definisinya yang pas. Selain itu, masih ada beberapa hambatan untuk menggembangkannya di Indonesia.

Meski mayoritas masyarakatnya Muslim, toh tak menjamin Indonesia dikunjungi turis Muslim dan mengembangkan wisata syariah dengan baik. Ada tantangan yang harus dihadapi Kemanpar, para pelaku industri wisata dan dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).

"Pertama, mispresentasi soal wisata syariah itu sendiri. Banyak orang yang salah paham, mengartikan wisata syariah atau Muslim itu hanya ziarah ke kuburan-kuburan," tutur Ketua Umum BPP PHRI, Hariyadi Sukamdani saat Forum Discussion Group di Merak Room, Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lanjut Hariyadi, yang dimaksud dengan wisata syariah adalah suatu wisata yang bersahabat dengan turis Muslim. Sesuatu yang memudahkan turis Muslim untuk beribadah, makan dan beraktivitas. Layaknya, turis-turis lainnya.

"Contohnya, di semua tempat wisata disediakan tempat wudhu dan musala yang bersih. Itu penting, tapi belum semuanya di Indonesia seperti itu," tambahnya.

Untuk itulah, Kemenpar dibantu MES dan para ulama dari MUI harus mendefinisikan wisata syariah dan mengedukasi masyarakat. Sebab seperti apa yang dilakukan Malaysia, wisata syariah tidak berdiri sendiri.

"Wisata syariah itu sama kayak wisata pada umumnya. Turis Muslim mancanegara pun naik kunjungannya, di mana jumlah kunjungan seluruh turis mancanegara naik. Jangan lupa, akses ke tempat wisata," papar Hariyadi.

Kemudian, yang terpenting adalah SDM pariwisata dalam melayani turis Muslim dari Timur Tengah dan Tiongkok. Adat istiadat mereka harus dipelajari betul.

"Mereka sedikit lebih kasar, berbeda dengan turis lainnya. Mereka juga lebih senang dilayani pakai bahasanya sendiri. Nah, bagaimana kita menciptakan SDM yang menghandle hal tersebut," ungkap Hariyadi.

Menjawab hal itu, Dirjen Pemasaran Pariwisata Kemenpar, Esthy Reko Astuti menegaskan akan menggandeng institusi akademisi. Seperti STP Pariwisata di Jakarta dan Bali, yang bisa diberi pelatihan khusus untuk wisata syariah.

"Kita ajak juga Pemda, komunitas, ulama-ulama dari MUI dan para pelaku industri pariwisata untuk wisata ini," ujarnya.

(shf/fay)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads