"Kalian boleh memotret, tapi jangan sampai memotret orang-orangnya," tutur Tatsuo Yoshino, seorang pemandu wisata asli Jepang kepada detikTravel saat perjalanan menjelajahi Jepang bersama rombongan media dari Jakarta, atas undangan Japan National Tourism Organization (JNTO) dan Cathay Pacific, pekan lalu di Tokyo.
Betul apa yang dikatakan Yoshino. Ketika beberapa awak media memotret masyarakat Jepang untuk mengambil angle terbaik, orang-orangnya justru berbalik badan atau menundukan muka. Mereka enggan dipotret.
"Kalau mau ya jangan di-zoom kameranya," kata Yoshino mengingatkan lagi.
Hal ini mungkin berbeda dengan masyarakat di negara lain. Ketika orang-orangnya senang dipotret, orang Jepang justru sebaliknya. Kalau kata Yoshino, mereka sangat mementingkan privasi.
"Privasi sangat penting bagi kami. Tapi bukan berarti kami tidak membantu turis, orang-orang Jepang akan sangat membantu turis yang sedang kesulitan. Baik sedang mencari jalan ke hotel atau ke tempat wisata," papar Yoshino.
Ini tentu menjadi 'shock culture' lainnya dari Negeri Sakura. Kalau mau memotret masyarakat Jepang, lebih baik meminta izin dulu atau bisa juga curi-curi kesempatan. Masyarakat seolah pemalu, yang selalu menghindari kamera turis.
(Afif Farhan/Afif Farhan)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong