Saat detikTravel berbincang dengan Trashbag Community di markasnya yang terletak di Jalan Kalibata Timur 4F No 20, Jakarta Selatan pekan lalu, mereka berkisah suka duka dan tantangan yang mereka dapat. Dalam aksi mereka membawa sampah turun dari gunung tidak jarang mereka menegur pendaki yang buang sampah sembarangan
Meski begitu seringkali mereka juga mendapat hinaan dan cibiran. Walau aksi mereka positif, tidak semua pihak mengapresiasi dan memeberikan respon meremehkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun berhubung rasa cinta akan gunung yang lebih besar dari cercaan, Trashbag Community tetap menjalankan aksinya untuk membawa turun sampah dan mengingatkan semua pihak tanpa kenal lelah. Pada akhirnya, Trashbag Community tetap solid dan mulai mendapat perhatian.
"Sekarang alhamdullilah. Mereka yang dulu mencela itu sudah angkat topi semua, karena kita menunjukkan konsistensi, bukan hanya euphoria," cerita ragil.
Namun dalam upaya untuk membersihkan gunung dari sampah, bukan hanya hinaan saja yang diterima oleh Trashbag Community. Tantangan seperti dana operasional pun menjadi hambatan untuk berbuat, adapun aksi harus jalan terus.
"Tantangannya mungkin lebih ke menghidupi komunitas, karena semakin banyak permintaan trashbag, kita berusaha mendistribusikan trashbag ke seluruh regional beserta atribut lainnya, yang sumber dananya kita mengolah dari hasil merchandise yang dijual, di sinilah independensi kita," ujar Ragil.
Akhirnya konsistensi berhasil mengubah hinaan jadi pujian. Sebagai komunitas yang peduli, kecintaan Trashbag Community untuk membersihkan sampah di gunung dan mengingatkan pendaki lain seakan tidak pernah padam. Inilah contoh baik yang harus ditiru oleh para pendaki gunung.
(rdy/fay)












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Agar Turis Betah, Pemerintah Malaysia Minta Warga Lebih Ramah