Gunungkidul, dari Banyak 'Pantai mati' Hingga Jadi Primadona

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

#detikcomEffect

Gunungkidul, dari Banyak 'Pantai mati' Hingga Jadi Primadona

Kurnia Yustiana - detikTravel
Kamis, 09 Jul 2015 18:50 WIB
Gunungkidul, dari Banyak Pantai mati Hingga Jadi Primadona
Pantai Siung di Gunungkidul (Aprianto Edy Kurniawa/d'Traveler)
Gunungkidul -

Gunungkidul di DI Yogyakarta punya banyak tempat wisata alam yang mempesona. Wilayah itu dulunya sepi, tapi kini pantainya menjadi destinasi primadona berkat kegigihan banyak pihak mempublikasikannya secara online.

Kabupaten Gunungkidul di DI Yogyakarta punya segudang tempat wisata. Gua, deretan pantai serta alam yang indah, menjadi daya tarik kawasan ini. Member travel blogger detikTravel alias d'Traveler bernama Darwance yang sering jalan-jalan ke Gunungkidul, berbagi kisah mengenai perkembangan pariwisata di kabupaten itu.

"Dulu kayak pantai mati. Enggak ada orang yang menjajakan makanan, sewa tikar, payung pantai. Tidak ada juga yang mengurusi parkiran," ujar Darwance dalam wawancara telepon dengan detikTravel, Kamis (9/7/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pria ini bercerita bahwa dulu, berbagai gua dan pantai di Gunungkidul sepi sekali seperti pantai mati. Padahal sebenarnya pantai-pantai di sana memang begitu indah, seperti Krakal, Kukup, Indrayanti, dan lain-lain. Tapi sekarang semuanya telah berubah, Gunungkidul banyak berkembang dan menjadi destinasi wisata incaran traveler.

Nama Gunungkidul yang makin eksis pun tak lepas dari pemberitaan di media. Darwance pun setuju dengan anggapan bahwa 100 lebih artikel di detikTravel, yang ditulis oleh jurnalis dan para d'Traveler, berpengaruh besar dalam mengangkat nama Gunungkidul.

"Iya kalau itu sepakat. Banyak yang lihat tulisan di detikTravel terus ke Gunungkidul. Temen-temen saya dari luar daerah juga banyak yang baca tulisan saya di detikTravel terus ke sana," kata pria kelahiran Bangka ini.

Darwance dulu sering jalan-jalan ke Gunungkidul ketika kuliah di Universitas Gadjah Mada. Ia pun sering menulis untuk detikTravel tentang perjalanannya ke berbagai pantai di sana. Menurutnya, artikel di detikTravel itu bisa menarik banyak traveler untuk berkunjung ke tempat yang ditulis.

"Tulisan di detikTravel itu bisa mengajak orang ke sana. Memang sangat berpengaruh terhadap pariwisata di tempat yang kita tulis itu," tuturnya.

Setelah terkenal, objek wisata di Gunungkidul pun semakin berkembang. Sekarang pantai-pantai di sana sudah banyak dikelola. Masyarakat lokal pun banyak yang terjun langsung dalam mengelola kawasan pantai. Fasilitas pantai juga sudah lebih lengkap.

"Setelah terkenal, semua objek wisata yang berpotensi itu dikelola. Yang mengelola banyak komunitas begitu, jadi masyarakat di sana diberi kesempatan mengelola tempat wisata," kata Darwance.

Warung serta bangunan lain di dekat gua dan di pinggir pantai sudah banyak dibangun. Payung-payung untuk berteduh di tepi pantai pun sudah tersedia. Turis dari berbagai daerah juga seringkali memadati berbagai tempat wisata di Gunungkidul.

Saking ramainya, ada juga tempat wisata yang ketika akhir pekan sampai tidak bisa dimasuki lagi karena sudah penuh sesak. Contoh dari tempat populer yang sampai terlalu ramai ini adalah Gua Pindul.

"Gua Pindul sudah ramai banget. Kalau datang telat bisa enggak kebagian masuk, sudah crowded banget. Hari biasa kayak hari Senin masih bisa dinikmati. Kalau akhir pekan enggak bisa," tutur pria yang hobi jalan-jalan ini.

Dengan adanya pengunjung objek wisata yang ramai, maka jalanan di wilayah Gunungkidul pun seringkali dipadati motor hingga bus-bus besar. Menurut Darwance, jalanan di Gunungkidul sebenarnya sudah mulus hanya masih kurang besar saja.

"Jalan menuju ke pantai itu mulus, cuman berkelok-kelok dan sempit. Kadang akhir pekan itu banyak bus raksasa, pasti macet. Mungkin bisa diperlebar lagi jalanannya karena pengunjungnya luar biasa," kata Darwance.

(rdy/fay)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads