Afrika Selatan Menepis Stigma Ebola dan Rawan Kriminal
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Afrika Selatan Menepis Stigma Ebola dan Rawan Kriminal

Fitraya Ramadhanny - detikTravel
Jumat, 21 Agu 2015 10:15 WIB
Afrika Selatan Menepis Stigma Ebola dan Rawan Kriminal
Wamenpar Afrika Selatan Thokozile Xasa (Fitraya/detikTravel)
Jakarta -

Imej buruk pariwisata di Afrika adalah wabah penyakit Ebola dan kondisi yang rawan kriminal. Dua hal itu membuat wisatawan emoh ke sana. Lantas bagaimana Afrika Selatan menyiasatinya agar wisatawan mau datang?

detikTravel berbincang-bincang dengan Wakil Menteri Pariwisata Afrika Selatan, Thokozile Xasa usai acara South African Tourism Roadshow di Hotel JW Marriott, Jakarta. Xasa mengatakan masalah Ebola dan kriminal membuat wisatawan enggan pergi ke Afrika.

Masalah tersebut benar adanya. Namun, tidak semua wilayah Afrika terkena Ebola dan rawan kriminal. Afrika Selatan sebut Xasa, aman dari kedua hal tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sama sekali tidak ada isu Ebola di Afrika Selatan. Yang terkena Ebola adalah negara lain di Afrika, malah Afrika Selatan yang membantu mereka," kata Xasa, Kamis (20/8/2015) malam.

Namun, efek dari pemberitaan membuat wisatawan dunia memukul rata kejadian Ebola di Afrika. Akibatnya, Afrika Selatan yang menurut Xasa bebas dari Ebola, ikut ditinggalkan wisatawan.

"Turis China itu paling banyak di Afrika Selatan. Jumlah mereka turun drastis sekarang, ini yang mau kita coba tingkatkan lagi," kata Xasa.

Bagaimana dengan kriminal? Menurut Xasa tindak kejahatan bisa terjadi di belahan negara manapun dan tidak tertutup kemungkinan korbannya adalah wisatawan.

Demikian pula halnya di Afrika Selatan. Namun menurutnya pemerintah Afrika Selatan sudah melakukan banyak hal untuk meningkatkan keamanan wisatawan. Saat Piala Dunia yang lalu, Afrika Selatan kebanjiran wisatawan namun keamanan mereka cukup terjaga.

"Tidak ada negara tanpa tindakan kriminal. Tapi kami berupaya maksimal untuk menurunkan tindak kriminal. Saat Piala Dunia lalu, kita sampai mengerahkan 100.000 polisi," tutupnya.

(sst/sst)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads