Puncak Carstensz, Puncak Tersulit Ketiga di Dunia

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz 2015

Puncak Carstensz, Puncak Tersulit Ketiga di Dunia

Afif Farhan - detikTravel
Selasa, 01 Sep 2015 07:15 WIB
Puncak Carstensz, Puncak Tersulit Ketiga di Dunia
Pendakian ke Puncak Carstensz (Afif/detikTravel)
Timika - Tim Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz 2015, termasuk detikcom di dalamnya telah berhasil mendaki sampai ke Puncak Carstensz di Papua. Titik tertinggi di Indonesia ini dinilai paling berat ketiga jalur pendakiannya di dunia.

Butuh perjuangan tidak mudah untuk bisa berdiri di Puncak Carstensz. Inilah salah satu Seven Summit di dunia. Puncak Carstensz masuk dalam kawasan Pegunungan Tengah di Papua. Tingginya 4.884 mdpl dan medannya dipenuhi bebatuan curam yang tajam.

Tim jurnalis bisa mencapai misi ini, itu tidak terlepas dari kerja sama seluruh anggota tim. Mulai dari persiapan sampai keberangkatan, dari para jurnalis yang terlibat, pihak Adventure Carstensz selaku operator sampai Kemenko Maritim dan Kemenpar yang memberi dukungan. Mereka yang berangkat dan tidak berangkat saling mendukung dibantu dengan instruktur yang piawai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pendakian ini tentu saja bukan keberhasilan individu, melainkan keberhasilan semua pihak yang terlibat dan memberikan dukungan. Ini dikarenakan Puncak Carstenz adalah yang tersulit ketiga di dunia.

"Puncak Carstensz ini tersulit ketiga di dunia, setelah Everest dan Denali," kata ketua tim pemandu Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz 2015, Hendricus Mutter kepada detikTravel, Minggu (29/8) saat berada di Puncak Carstensz, Papua.

Kalau dibandingkan dengan Puncak Everest di Nepal dan Puncak Denali di Alaska, kedua puncak tersebut kesulitannya berupa suhu yang ekstrem. Di Puncak Denali saja, suhunya bisa mencapai minus 40 derajat Celcius!

Bagi pria yang sudah 10 kali mendaki Puncak Carstensz tersebut, kesulitan ke Puncak Carstensz justru lebih kompleks. Pertama, berupa jalur pendakian yang panjang yang mana pendaki akan melewati hutan lebat yang berbukit terlebih dulu.

"Lewat hutan, lewat rawa baru sampai di sini. Lalu, kalau mau naik ke atas harus menguasai ilmu panjat tebing," tuturnya.

Ya, begitu tiba di kaki Puncak Carstensz, sudah tidak ada lagi hutan lebat. Sepanjang pandangan, berikutnya hanya ada batu hitam yang besar-besar dan tajam.

"Carstensz ini dulunya lempengan yang tabrakan terus ke atas. Makanya, seperti batu karang dan tajam-tajam. Hati-hati baju, celana dan sarung tangan bisa robek," ujar Hendricus.

Untuk mendaki ke atasnya, bisa memakan waktu sampai 7 jam dari Basecamp Lembah Danau-danau. Para pendaki, mengambil waktu pendakian pada pukul 04.00 WIT dari basecamp dan tiba di atas sekitar pukul 11.00-12.00 WIT.

"Kalau sudah pukul 13.00 harus turun. Karena, setelah itu cuaca berbahaya seperti kabut tebal sampai hujan angin. Lagipula, nanti turunnya bisa kemalaman dan bahaya," ungkap Hendricus.

Kesulitan mendaki Puncak Carstensz, juga banyak diungkapkan oleh turis mancanegara yang pernah dipandu Hendricus. Seperti dari Rusia dan Tiongkok, yang juga mengakui kalau pendakian ke Puncak Carstensz benar-benar sulit.

"Turis-turis tapi malah happy. Kayak turis Tiongkok, senang banget mereka kalau naik Carstensz," tutupnya.

Pada Selasa (1/9) pagi, tim sudah seluruhnya berada di Timika. Rencananya, tim akan pulang ke Jakarta dengan pesawat siang ini. Terima kasih atas segala doa dan dukungannya!

(shf/Aditya Fajar Indrawan)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads