Panahan biasanya dilakukan dalam posisi berdiri, dengan kuda-kuda kaki yang kuat. Tidak seperti itu, panahan ala Keraton memiliki cara yang benar-benar berbeda.
Jejampringan, demikian disebutnya, merupakan panahan ala kerajaan Yogyakarta dengan posisi yang duduk tegap. Tak lupa, mereka juga harus mengenakan pakaian tradisional. Namun sayangnya, saat ini sulit mencari orang yang sedang berlatih Jejampringan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Latihannya setiap Jumat jam 15.00 sampai sekitar 17.00," ujar Public Relations Manager Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Candid Erdiata kepada detikTravel.
Latihan dari komunitas yang bernama Mardisoro ini pun bisa dilihat umum oleh para tamu dan pengunjung yang datang. Tak dipungut biaya, alias gratis, wisatawan bisa melihat sendiri apa itu Jejampringan dan bagaimana melakukannya.
Jika pengunjung begitu penasaran ingin mencoba, komunitas tersebut pun membuka kelas. Untuk satu kali latihan, Komunitas Mardioso memberikan biaya Rp 250 ribu kepada traveler. Tertarik?
(shf/shf)












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Agar Turis Betah, Pemerintah Malaysia Minta Warga Lebih Ramah