Cara Menpar Membuat Pariwisata Sebagai Kebutuhan Dasar

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Cara Menpar Membuat Pariwisata Sebagai Kebutuhan Dasar

Kurnia Yustiana - detikTravel
Kamis, 17 Sep 2015 17:10 WIB
Cara Menpar Membuat Pariwisata Sebagai Kebutuhan Dasar
Turis di Lombok (Afif/detikTravel)
Jakarta - Banyak tantangan yang harus dihadapi untuk mengembangkan sektor pariwisata Indonesia. Menurut Menpar, salah satu tantangan itu adalah bagaimana membuat pariwisata menjadi kebutuhan dasar, layaknya ponsel yang selalu dibawa ke mana-mana.

"Tantangan buat kita adalah menjadikan pariwisata sebagai basic needs. Telekomunikasi sudah terjadi, transportasi hampir terjadi, tourism belum terjadi," ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam acara Orientasi Jurnalis Pariwisata di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Kamis (17/9/2015).

Ia mencontohkan bahwa telekomunikasi menjadi kebutuhan dasar hampir semua masyarakat di Indonesia. Penggunaan ponsel misalnya, hampir setiap hari sang pemilik seakan tak lepas dari ponsel. Arief pun mengharapkan kalau pariwisata, misalnya dalam hal liburan ke berbagai destinasi juga bisa selalu dibutuhkan, layaknya penggunaan ponsel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sudah jelas telekomunikasi terjadi, ketika menjadi basic needs di mana orang nggak bisa hidup tanpanya," kata Arief.

Untuk itu, dia sudah menyiapkan dua strategi yang diharapkan bisa ampuh. Pertama, mendatangkan wisman dengan daya beli tinggi dan membuat harga berbagai kebutuhan terkait wisata menjadi murah untuk menarik wisnus (wisatawan dalam negeri-red).

"Yang kedua untuk wisnus buat pricingnya affordable atau terjangkau. Buat ini untuk wisnus jadi affordable, maka market kita akan semakin besar," jelas Arief.

Untuk wisnus, biasanya yang membutuhkan budget cukup besar adalah penginapan serta transportasi. Ia pun menyarankan bagi para pemilik kos-kosan untuk menjadikan kamar yang sedang kosong untuk homestay. Sehingga traveler bisa menginap dengan biaya lebih murah.

"Contohnya dengan akomodasi, kos-kosan di Garut Rp 500 ribu, sehari Rp 15-20 ribu. Kalau dia mau untuk homestay Rp 50 ribu per hari, dikali 10 sudah Rp 500 ribu sama dengan sebulan," ucapnya.

Arief juga mengatakan bahwa jika nantinya bisa dibuat paket wisata dengan pengeluaran Rp 100 ribu per orang per hari, yang sudah termasuk makan, akomodasi dan transportasi, pasti wisatawan banyak yang tertarik. Dengan begitu, berbagai kalangan masyarakat pun banyak yang merealisasikan keinginan liburannya.

"Kalau sehari bisa in total di bawah Rp 100 ribu, itu hampir pasti meledak. Kita dari kelas menengah sudah mampu untuk berpariwisata," tutur Arief.

(krn/aff)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads