Ditemui seusai acara jumpa pers Konferensi Kota Kreatif Indonesia di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Kemenpar, Jakarta, Menpar Arief Yahya menekankan pentingnya peran industri ekonomi kreatif dalam menyokong dunia pariwisata. Namun sedikitnya perusahaan rintisan yang berhasil, membuat dia prihatin.
"Saat ini evolusi di bidang industri sudah sampai di tahap yang keempat, cultural industri alias ekonomi kreatif. Bahkan di beberapa negara, ekonomi kreatifnya lebih besar daripada industrinya, contohnya saja Korea. Tapi sayang, di Indonesia 95% gagal, hanya 5% yang berhasil," ujar Arief Yahya saat memberikan paparannya, Senin (5/10/2015) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada 4, namanya ABCG, akademisi, pelaku bisnis, community dan government. Ekosistem ini harus ada lokomotifnya. Misalnya perusahaan yang lebih besar meng-endorse yang lebih kecil, itu lokomotif. Kalau sudah terbentuk ekosistem ini, pasti akan jalan," ungkap Arief.
Jurus berikutnya adalah memeriksa setiap langkah bisnis, apakah ada nilai keekonomian yang menguntungkan atau tidak. Hal tersebut penting untuk meminimalisasi kegagalan saat merintis usaha di bidang ekonomi kreatif.
"Kalau sudah tahu bakal rugi, ya jangan diteruskan. Kalau tidak laku, hentikan, daripada kita membuang sumber daya. Kita juga harus mengubah strategi. Sell first, then invest," tambah Arief.
Pelaku industri ekonomi kreatif yang sedang merintis usaha, sebaiknya banyak menjual produknya dulu sampai benar-benar laku, baru menginvestasikan keuntungannya untuk hal lain, termasuk untuk promosi. Jurus terakhir dari Arief adalah Join The Winner, alias bergabung dengan perusahaan start up yang sudah lebih dahulu sukses.
"Kebanyakan pebisnis ingin jadi Messi semua, padahal dalam satu tim ada yang berperan jadi gelandang, bek, kiper. Apakah yang lain tidak boleh bermain? Ya boleh ikut main, tapi ada perannya sendiri-sendiri. Bergabunglah dengan para juara, kamu akan jadi juara juga," tutup Arief.
Itulah 3 jurus jitu dari Arief Yahya yang bisa diterapkan sebelum memulai merintis usaha di bidang ekonomi kreatif. Memang sudah selayaknya pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi ujung tombak dalam menyumbang devisa untuk negara.
(rdy/Aditya Fajar Indrawan)












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Agar Turis Betah, Pemerintah Malaysia Minta Warga Lebih Ramah