Menpar Akui 95% Usaha Ekonomi Kreatif Gagal

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Menpar Akui 95% Usaha Ekonomi Kreatif Gagal

Wahyu Setyo - detikTravel
Selasa, 06 Okt 2015 07:15 WIB
Menpar Akui 95% Usaha Ekonomi Kreatif Gagal
Industri kreatif T Shirt, menyediakan baju tematik untuk oleh-oleh wisatawan (Fitraya/detikTravel)
Jakarta - Industri ekonomi kreatif menyokong dunia pariwisata Indonesia. Namun, Menpar Arief Yahya mengakui 95 persen start up usaha ekonomi kreatif malah gagal. Menpar menyiapkan solusinya.

Ditemui seusai acara jumpa pers Konferensi Kota Kreatif Indonesia di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Kemenpar, Jakarta, Menpar Arief Yahya menekankan pentingnya peran industri ekonomi kreatif dalam menyokong dunia pariwisata. Namun sedikitnya perusahaan rintisan yang berhasil, membuat dia prihatin.

"Saat ini evolusi di bidang industri sudah sampai di tahap yang keempat, cultural industri alias ekonomi kreatif. Bahkan di beberapa negara, ekonomi kreatifnya lebih besar daripada industrinya, contohnya saja Korea. Tapi sayang, di Indonesia 95% gagal, hanya 5% yang berhasil," ujar Arief Yahya saat memberikan paparannya, Senin (5/10/2015) malam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Arief, ada 3 jurus jitu untuk menghindari kegagalan dalam merintis usaha di bidang ekonomi kreatif. Jurus pertama dari Arief adalah buatlah ekosistem yang terdiri dari 4 elemen berbeda yang saling bersinergi untuk bisa sukses.

"Ada 4, namanya ABCG, akademisi, pelaku bisnis, community dan government. Ekosistem ini harus ada lokomotifnya. Misalnya perusahaan yang lebih besar meng-endorse yang lebih kecil, itu lokomotif. Kalau sudah terbentuk ekosistem ini, pasti akan jalan," ungkap Arief.

Jurus berikutnya adalah memeriksa setiap langkah bisnis, apakah ada nilai keekonomian yang menguntungkan atau tidak. Hal tersebut penting untuk meminimalisasi kegagalan saat merintis usaha di bidang ekonomi kreatif.

"Kalau sudah tahu bakal rugi, ya jangan diteruskan. Kalau tidak laku, hentikan, daripada kita membuang sumber daya. Kita juga harus mengubah strategi. Sell first, then invest," tambah Arief.

Pelaku industri ekonomi kreatif yang sedang merintis usaha, sebaiknya banyak menjual produknya dulu sampai benar-benar laku, baru menginvestasikan keuntungannya untuk hal lain, termasuk untuk promosi. Jurus terakhir dari Arief adalah Join The Winner, alias bergabung dengan perusahaan start up yang sudah lebih dahulu sukses.

"Kebanyakan pebisnis ingin jadi Messi semua, padahal dalam satu tim ada yang berperan jadi gelandang, bek, kiper. Apakah yang lain tidak boleh bermain? Ya boleh ikut main, tapi ada perannya sendiri-sendiri. Bergabunglah dengan para juara, kamu akan jadi juara juga," tutup Arief.

Itulah 3 jurus jitu dari Arief Yahya yang bisa diterapkan sebelum memulai merintis usaha di bidang ekonomi kreatif. Memang sudah selayaknya pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi ujung tombak dalam menyumbang devisa untuk negara.

(rdy/Aditya Fajar Indrawan)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads