Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 08 Okt 2015 10:45 WIB

TRAVEL NEWS

Puncak Carstensz (Harusnya) Bisa Menyejahterakan Papua

Afif Farhan
detikTravel
Maximus (tengah) berfoto bersama masyarakat Ugimba (Afif/detikTravel)
Timika -

Puncak Carstensz adalah bukti kekayaan tanah Papua. Inilah puncak setinggi 4.884 mdpl yang masuk dalam 7 puncak tertinggi di 7 benua. Para pendaki rela mengeluarkan ratusan juta rupiah, agar bisa berdiri di sana.

"Operator pendakian luar negeri, jual paket ke Carstensz itu lebih dari USD 10.000 (setara Rp 150 juta-red). Satu orang saja sudah berapa uang yang masuk," ujar Maximus Tipagau, penanggung jawab Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz 2015 kepada detikTravel pada pertengahan bulan Agustus kemarin.

Maximus memberikan contoh, Adventure Consultant, operator pendakian terkenal dari Selandia Baru saja menjual paket pendakian ke Puncak Carstensz seharga USD 27.000 atau sekitar Rp 383 juta. Tak ayal, Puncak Carstensz pun disebut-sebut sebagai salah satu pendakian paling mahal di dunia.

Uang sebegitu banyak, digunakan untuk membayar porter sampai logistik. Lalu pertanyaannya sekarang, apakah masyarakat Papua sendiri sudah menikmati kucuran dana yang dikeluarkan oleh para pendaki?

"Ada tiga suku yang mendiami kawasan di sekitar Puncak Carstensz, yaitu Suku Dani, Moni dan Amungme. Desa yang terdekat itu, Desa Ugimba. Sudah sejahtera mereka dari wisata Puncak Carstensz? Belum, semuanya masih dikuasi oleh bukan orang Papua," papar Maximus.

Menurut Maximus, suku-suku Papua yang tinggal di sekitar Puncak Carstensz jangan hanya menjadi penonton saja. Mereka harus turun langsung untuk mengelola destinasi-destinasi di sana.

Sebagai masyarakat asli, Maximus pun memiliki operator pendakian Adventure Carstensz. Operator yang sepenuhnya dikelola oleh masyarakat Ugimba baik untuk soal porter, logistik (seperti makanan) hingga penginapan.

Namun Maximus berujar, kalau tidak mudah untuk memberikan pemahaman pariwisata kepada masyarakat di sana. Butuh pelatihan yang tidak sebentar serta regulasi yang jelas terhadap jalur pendakian dari pemerintah.

"Biar masyarakat Papua sendiri yang atur pariwisata di Puncak Carstensz. Kami tidak mau seperti Raja Ampat yang pengelola wisatanya justru orang-orang luar dan orang aslinya hanya bantu-bantu saja. Puncak Carstensz harus orang Papua yang urus biar membantu perekonomiannya juga," tuturnya.

Maximus pun meminta bantuan pemerintah untuk turut serta membantu masyarakat Papua mengelola Puncak Carstensz. Selain memberikan pelatihan pemahaman pariwisata, pemerintah dimintanya untuk membangun infrastruktur di sana khususnya terkait pariwisata mengenai jalur pendakian ke Puncak Carstensz.

"Sekarang, pemikiran pemerintah adalah mempromosikan destinasi yang infrastrukturnya sudah siap. Di Puncak carstensz, mindset itu harus diubah. Infratruktur pariwisata dulu yang dibenahi seperti akses, jalur pendakian dan regulasi. Sampai kapan pun menunggu infrastruktur di Papua tidak akan selesai, lalu kapan pariwisatanya jalan," ungkapnya.

Sudah saatnya pemerintah dalam hal ini Kemenpar duduk bareng bersama masyarakat papua membahas soal pengelolaan Puncak Carstensz. Orang-orang papua harus bisa menjaga dan melestarikan keindahan alam di sana demi pariwisata. Karena dengan pariwisata jugalah, mereka bisa hidup sejahtera.

(aff/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA