Kisah Pria yang Berlari 8 Hari di Kutub Utara

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Kisah Pria yang Berlari 8 Hari di Kutub Utara

Faela Shafa - detikTravel
Senin, 12 Okt 2015 19:05 WIB
Kisah Pria yang Berlari 8 Hari di Kutub Utara
Hendra Wijaya di Kutub Utara (Hendra Wijaya)
Jakarta - Banyak cara menikmati sebuah destinasi. Pria ini punya cara berbeda dalam memuaskan rasa penasarannya. Hendra Wijaya berlari 8 hari di Kutub Utara karena merasa penasaran.

Dengan senyum dan tatapan mata yang kuat, Hendra mempersilahkan detikTravel duduk dan memulai pembicaraan. Seperti kebanyakan orang, detikTravel pun penasaran kenapa dirinya ingin lari di Artik.

"Sama. Saya bertemu dengan orang Indonesia yang tinggal di kota terakhir sebelum Kutub Utara. Ia bertanya kenapa saya lari ke sana. Katanya, kok kamu aneh mau lari di Kutub Utara?" ujarnya sambil tertawa.



Hendra Wijaya adalah pelari pertama dari Indonesia yang berhasil menyentuh Kutub Utara. Menurutnya, menjadi pelari ultra bukan sekadar pencapaian, tapi juga proses selama berlari.

"Keingintahuan dengan rasa dan suasana di Kutub itu seperti apa yang membuat saya sampai di sana," tuturnya.

Selama ini, pria yang sering dipanggil Kang Hendra ini penasaran ingin traveling ke Kutub Utara. Tak ingin biasa, pria kelahiran Lampung, 26 November 1966 ini memutuskan ikut Likeys 6633 Arctic Ultra akhir bulan Maret 2015 kemarin.



"Kita tahu suhunya minus 32 derajat Celcius, bahkan bisa lebih. Tapi tak pernah terbayangkan seberapa dinginnya. Ketika datang barulah saya bisa merasakannya sendiri," katanya yang merasa begitu penasaran dengan Artik.

Tidak seperti event lari di kebanyakan tempat. Di sini, peserta harus membawa kereta yang berisi keperluan pribadi. Mulai dari pakaian, sepatu, sampai makanan dibawa dalam kereta ini.

"Masing-masing boleh bawa apa saja. Total berat bawaan saya sekitar 40 kg," tuturnya.



Selama 8 hari, pagi dan malam, ia berlari di medan yang berat. Kadang trek larinya es, kadang juga salju yang tebal. Itulah yang sulit, karena lari saja sudah sulit, ditambah harus menarik kereta bawaan.

"Tidak pernah," ujarnya saat ditanya apakah pernah berada di titik terendah dan ingin menyerah kala berlari di Kutub Utara.



Ia pun jadi salah satu dari delapan orang yang berhasil sampai finish. Selain berhasil membuktikan pada diri sendiri bahwa dirinya mampu untuk sampai finish, dia juga bisa memuaskan rasa ingin tahunya. Mulai dari bagaimana suhu yang ada di sana, sampai bagaimana tidur di atas es.

"Saya berbaring di tengah jalan. Mau merasakan gimana sih rasanya tidur di atas es, di Kutub utara," ujarnya sambil menunjukkan video yang dia rekam sendiri dengan ponselnya kala itu.

Enak dan sepi. Begitu pengakuannya saat ditanya apa rasanya tidur di sana.

Kang Hendra bersama 18 peserta lainnya berlari sepanjang 566 km dengan maksimal waktu 192 jam. Ia merupakan 1 dari 8 peserta yang berhasil sampai garis finish, dengan catatan waktu 188 jam.



Selama berlari, ia selalu menyempatkan untuk merekam perjalanannya. Bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang lain. Agar semua orang bisa tahu seperti apa Kutub Utara dan bagaimana medannya jika ingin berlari di sana.

Penasaran seperti apa videonya? Ini dia!



(shf/shf)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads