Bersama jurnalis Indonesia dan Jepang, detikTravel berkunjung ke Brussels pekan lalu. Suhu 4-10 Celcius menyambut. Maklum, bulan Desember adalah musim dingin di Belgia dan Eropa.
Di sela padatnya acara resmi bertemu dengan pihak Istana Kerajaan Belgia, pejabat Kementerian Luar Negeri, Perdagangan, dan Pembangunan, dan pengusaha, rombongan jurnalis berpencar. Saya dan beberapa jurnalis Indonesia memilih menyambangi mannekin pis, ikon Kota Brussels.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu, Minggu (6/12/2015), meski siang, suasana agak gelap karena mendung menggelantung. Turis dari berbagai negara seolah tak peduli. Ditemani gerimis kecil, mereka berduyun-duyun menengok patung si bocah pipis itu.
Sesampai di lokasi, puluhan turis berkerumun. Mereka berfoto bergantian dengan background Mannekin Pis yang didandani bak sinterklas: berpakaian putih-merah dan berjenggot.
Adakah yang istimewa dari Mannekin Pis selain dandanan yang mirip sinterklas sehingga turis rela antre berfoto dan merasa belum sah ke Brussels jika belum menengok patung tersebut? Jika melihat bentuk, maka jawabannya tidak ada. Mannekin Pis berukuran kecil. Tingginya cuma 60 cm, diberi pijakan agar kelihatan jangkung dan bisa terlihat saat orang berfoto.
Bahan pembuatan Mannekin Pis juga bukan benda mewah. Bukan emas atau permata, melainkan perunggu.
Jika bukan bentuk, mungkinkah wajahnya yang istimewa? Tidak juga. Mannekin Pis cuma bocah berusia 2-3 tahunan yang kencing di kolam bawahnya. Wajahnya biasa, layaknya bocah Eropa.
Lalu apa yang membuat istimewa patung bocah pipis itu? Kisahnya. Ya, kisahnya lah yang membuat patung itu begitu berarti bagi warga Brussels dan Belgia serta turis.
Menurut sejarah, Mannekin Pis dibuat oleh pematung Jerome Duquesnoy pada tahun 1619 sebagai pengganti patung serupa yang terbuat dari batu dan hilang dicuri 3 abad sebelumnya. Bak legenda, cerita bersambung dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, bahwa patung itu merupakan perwujudan bocah yang mengencingi peledak yang akan menghancurkan Brussels pada abad 14. Benarkah cerita itu? Nobody knows.
Versi lain menyebutkan bocah itu merupakan putra bangsawan Belgia yang hilang. Dia ditemukan di perempatan sedang kencing. Sebagai penanda dibuatlah patung di perempatan sempit tersebut. Benarkah? Lagi, nobody knows. Sejauh ini tidak ada 'klarifikasi' dari bangsawan yang merasa kehilangan anak pada zaman itu.
Bagi turis, soal benar atau tidaknya cerita itu mungkin bukan hal penting. Mereka lebih tertarik menikmati suasana berbeda di luar daerah atau negara asalnya dan menikmati waffle khas Belgia dan kopi atau teh panas pengusir dingin yang banyak dijual di dekat lokasi. Juga, tentu saja, berpose di ikon kota yang terkenal seantero dunia. (sst/sst)












































Komentar Terbanyak
Wanita Palembang Nekat Nyamar Jadi Pramugari, Batik Air Buka Suara
Nyeleneh! Jemaah Zikir di Candi Prambanan: Mau Lepaskan Kutukan Roro Jonggrang
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru