Jurus Sawahlunto Berubah dari Kota Tambang Jadi Kota Wisata

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Jurus Sawahlunto Berubah dari Kota Tambang Jadi Kota Wisata

Fitraya Ramadhanny - detikTravel
Senin, 28 Mar 2016 14:55 WIB
Jurus Sawahlunto Berubah dari Kota Tambang Jadi Kota Wisata
Foto: Walikota Sawahlunto Ali Yusuf (Reno/detikTravel)
Jakarta - Sawahlunto diwarisi tambang dari era kolonial Belanda. Namun, sejumlah jurus sukses membuat Sawahlunto menjadi kota wisata, dari heritage sampai kain tenun.

"Event demi event dibikin sejak 2014, kita berharap tiap bulan bikin event. Tahun 2016 kita siapkan 11 bulan dengan banyak event. September ada Sawahlunto International Music Festival," kata Walikota Sawahlunto Ali Yusuf dalam obrolan dengan detikTravel di kantor detikcom, Jakarta, Senin (28/3/2016).

Dari yang awalnya keturunan pekerja tambang, mau tidak mau warga Sawahlunto melirik usaha jasa terutama pariwisata. Selain menarik wisatawan lewat event, Sawahlunto juga kini mengembangkan kerajinan songket sebagai suvenir untuk wisatawan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami punya tenun songket Silungkang yang dibuat dari home industry. Produksinya 140 lembar/hari ukuran 2x1 meter. Songket ini adalah ikon kota yang bisa menghidupi masyarakatnya," jelas dia.

Pemkot Sawahlunto menargetkan pertambahan 50 perajin tenun/tahun. Mereka dimodali benang dan alat tenun. Mereka telah menghasilkan 700 perajin dalam 3 tahun. Tenun Silungkang sudah beredar dari Tanah Abang sampai keluar negeri.

"Rencananya Pasar Tradisional Songket Sawahlunto akan dibuka akhir 2016. Kayak mal, nanti wisatawan bisa langsung kesana membeli songket," kata Ali.

Jurus terakhir adalah menyiapkan akomodasi yang nyaman untuk wisatawan. Namun sebagai kota heritage, mereka tidak boleh sembarangan membangun hotel.

"Kita tidak boleh membuat hotel lebih tinggi dari bangunan tua itu. Jadi kita mengembangkan banyak homestay. Bahkan homestay kita seperti kamar bintang 3 dan sudah mendapatkan penghargaan," ujarnya.

Namun bukan berarti Sawahlunto tidak punya tantangan. Merawat bangunan bersejarah butuh anggaran yang tidak sedikit. Apalagi mayoritas gedung bersejarah di Sawahlunto adalah aset PT Bukit Asam yang akan habis izin tambangnya tahun 2019.

"Kita sekarang harus memikirkan, nanti bangunan tua ini bagaimana mengurusnya. Diserahkan kepada kita atau bagaimana. Untuk mengurusnya butuh Rp 6 miliar pertahun. Sekarang saja kita keluarkan Rp 1,15 miliar/tahun untuk sewa pakai," tutupnya. (fay/fay)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads