Hal itu diungkapkan Arief dalam kunjungannya ke Kantor Angkasa Pura 2 di perkantoran Bandara Cengkareng, Jl Raya Soekarno Hatta, Tangerang, Rabu (7/9/2016). Arief bertemu langsung dengan Plt CEO Angkasa Pura II, Djoko Murjatmodjo dan membawa beberapa gagasan.
"Dulu dalam Ratas dengan Presiden, sudah pernah diputuskan untuk menaikkan jam operasi dari 12 jam menjadi 18 jam, agar bandara seperti Adi Sucipto Jogjakarta itu bisa menampung lebih banyak penerbangan," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sudah keliling airlines, berdiskusi dengan industri penerbangan. Harus ada semangat Indonesia Incorporated, harus bersama-sama untuk memajukan republik ini, sesuai dengan porsinya," tegasnya.
Beberapa gagasan lainnya yakni mengimplementasikan pelayanan bandara dengan IT (teknologi informasi) kepada publik. Tujuannya agar tidak terjadi 'kebocoran' dan pastinya makin memudahkan para turis.
"Dulu PT KAI di era Pak Jonan, juga menggunakan digital dan IT, dan hasilnya langsung double. Memudahkan semua pihak. Saya jamin, jika semua lini menggunakan IT, pengelolaan bandara ini juga akan double value," jelas pria asal Banyuwangi tersebut.
Arief pun melihat kapasitas dan traffic terminal penumpang bandara di AP II. Dari 13 Bandara, 7 diantaranya sudah 'merah' alias over capacity yakni Bandara Soekarno Hatta (CGK) 246% dari kapasitas, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (PLM) 112,8%, Bandara Minang Kabau (PDG) 105,6%, Bandara Husein Sastranegara (BDO) 131%, Bandara Supadio (PNK) 113%, Bandara Depati Amir (PGK) 331% dan Halim Perdana Kusuma 161%. Bandara Kuala Namu(KNO) Medan sudah 'kuning', 88,9%.
"Itu lebih banyak yang overcapacity, jumlah penumpangnya lebih banyak dari yang diperkirakan. Ini tidak boleh lagi. Misalnya, mau membangun Silangit, dengan terminal 100.000 per tahun, ini pembangunan belum selesai, jumlah penumpangnya sudah 180.000 ribu per tahun. Kerja dua kali, dan mengganggu kenyamanan orang yang menggunakan jasa transportasi udara," ungkapnya.
Terakhir soal regulasi, lagi-lagi Arief mengingatkan agar jangan membuat peraturan yang justru kontraproduktif dengan airlines. Mereka adalah industri yang seharusnya menjadi customers Angkasa Pura. Harus menciptakan atmosfer yang bisa membuat mereka berkembang. Mereka justru yang harus dilayani, bukan sebaliknya.
"Saya akan bantu, agar semua pihak bisa cepat maju dan berkembang," tutupnya. (aff/aff)












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Agar Turis Betah, Pemerintah Malaysia Minta Warga Lebih Ramah