Menteri Pariwisata Mau Bandara di Indonesia Buka 24 Jam

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Menteri Pariwisata Mau Bandara di Indonesia Buka 24 Jam

Afif Farhan - detikTravel
Rabu, 07 Sep 2016 19:05 WIB
Menteri Pariwisata Mau Bandara di Indonesia Buka 24 Jam
Foto: (dok kemenpar)
Jakarta - Bandara adalah pintu gerbang utama turis yang datang ke suatu negara. Menteri Pariwisata Arief Yahya, mau bandara di Indoensia beroperasi 24 jam.

Hal itu diungkapkan Arief dalam kunjungannya ke Kantor Angkasa Pura 2 di perkantoran Bandara Cengkareng, Jl Raya Soekarno Hatta, Tangerang, Rabu (7/9/2016). Arief bertemu langsung dengan Plt CEO Angkasa Pura II, Djoko Murjatmodjo dan membawa beberapa gagasan.

"Dulu dalam Ratas dengan Presiden, sudah pernah diputuskan untuk menaikkan jam operasi dari 12 jam menjadi 18 jam, agar bandara seperti Adi Sucipto Jogjakarta itu bisa menampung lebih banyak penerbangan," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arief menambahkan, Bali, Jaakrta dan Manado sudah mulai bisa didarati pesawat yang terbang malam. Itu bertujuan agar makin banyak penerbangan yang datang ke Indonesia, yang tentu saja lebih banyak lagi turis yang datang. Minimal, bandara yang dibawah pengelolaan AP II dulu yang buka 24 jam.

"Saya sudah keliling airlines, berdiskusi dengan industri penerbangan. Harus ada semangat Indonesia Incorporated, harus bersama-sama untuk memajukan republik ini, sesuai dengan porsinya," tegasnya.

Beberapa gagasan lainnya yakni mengimplementasikan pelayanan bandara dengan IT (teknologi informasi) kepada publik. Tujuannya agar tidak terjadi 'kebocoran' dan pastinya makin memudahkan para turis.

"Dulu PT KAI di era Pak Jonan, juga menggunakan digital dan IT, dan hasilnya langsung double. Memudahkan semua pihak. Saya jamin, jika semua lini menggunakan IT, pengelolaan bandara ini juga akan double value," jelas pria asal Banyuwangi tersebut.

Arief pun melihat kapasitas dan traffic terminal penumpang bandara di AP II. Dari 13 Bandara, 7 diantaranya sudah 'merah' alias over capacity yakni Bandara Soekarno Hatta (CGK) 246% dari kapasitas, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (PLM) 112,8%, Bandara Minang Kabau (PDG) 105,6%, Bandara Husein Sastranegara (BDO) 131%, Bandara Supadio (PNK) 113%, Bandara Depati Amir (PGK) 331% dan Halim Perdana Kusuma 161%. Bandara Kuala Namu(KNO) Medan sudah 'kuning', 88,9%.

"Itu lebih banyak yang overcapacity, jumlah penumpangnya lebih banyak dari yang diperkirakan. Ini tidak boleh lagi. Misalnya, mau membangun Silangit, dengan terminal 100.000 per tahun, ini pembangunan belum selesai, jumlah penumpangnya sudah 180.000 ribu per tahun. Kerja dua kali, dan mengganggu kenyamanan orang yang menggunakan jasa transportasi udara," ungkapnya.

Terakhir soal regulasi, lagi-lagi Arief mengingatkan agar jangan membuat peraturan yang justru kontraproduktif dengan airlines. Mereka adalah industri yang seharusnya menjadi customers Angkasa Pura. Harus menciptakan atmosfer yang bisa membuat mereka berkembang. Mereka justru yang harus dilayani, bukan sebaliknya.

"Saya akan bantu, agar semua pihak bisa cepat maju dan berkembang," tutupnya. (aff/aff)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads