Menpar Ingin Sektor Pariwisata Jadi Core Business Indonesia

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Menpar Ingin Sektor Pariwisata Jadi Core Business Indonesia

Wahyu Setyo Widodo - detikTravel
Senin, 12 Sep 2016 15:28 WIB
Menpar Ingin Sektor Pariwisata Jadi Core Business Indonesia
Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya (Ardhi Suryadhi/detikINET)
Jakarta - Sektor pariwisata digadang-gadang jadi penyumbang devisa terbesar. Menpar Arief Yahya pun mengusulkan agar pariwisata jadi core business-nya Indonesia.

Menpar Arief Yahya terus memberikan masukan kepada Presiden Joko Widodo, terkait core business Pemerintah Indonesia. Bahkan, Mantan Dirut PT Telkom ini, sudah melayangkan usulan tertulis kepada Presiden Joko Widodo terkait masalah tersebut.

"Iya, saya jelaskan pariwisata berpotensi menjadi core business Indonesia," kata Arief Yahya seperti dalam keterangan tertulisnya kepada detikTravel, Senin (12/9/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Alasannya, kata Arief, adalah pariwisata merupakan sektor penyumbang PDB, Devisa dan Lapangan Kerja yang paling mudah, murah dan cepat. Karena itu menuntaskan semua masalah bottleneck di sektor pariwisata itu sangat bermakna ekonomis buat masyarakat.

"Pertama soal PDB, pariwisata menyumbangkan 10% PDB nasional, dengan nominal tertinggi di ASEAN. Jarang lho, kita punya angka terbaik di regional kan? Di sini kita dapat!" kata Arief.

Kedua, masih menurut pendapat Arief, PDB pariwisata nasional tumbuh sebesar 4,8% dengan trend naik sampai dengan 6,9%. Angka tersebut jauh lebih tinggi daripada industri agrikultur, manufaktur, otomotif dan pertambangan.

"Dari sini saja sudah bisa diraba, bahwa agriculture, manufacture, tidak akan bisa bersaing di era digital. Pariwisata justru sebaliknya, performance-nya terus menanjak dan optimism itu kian terbentuk," imbuhnya.

Ketiga, devisa pariwisata mampu mencapai angka USD 1 Juta, menghasilkan PDB USD 1,7 Juta atau 170%. Angka itu terbilang tertinggi dibanding industri lainnya.

"Jadi kalau selama ini orang mengkategorikan industri itu menjadi migas dan non migas, maka kelak industri itu akan menjadi pariwisata dan non pariwisata," jelas Arief.

Lebih lanjut Arief menjelaskan bahwa, saat ini Pariwisata masih menempati posisi ke-4 penyumbang devisa nasional, sebesar 9,3% dibandingkan industri lainnya. Tapi, pertumbuhan penerimaan devisa pariwisata itu tertinggi, yaitu 13%. Sedangkan industri minyak gas bumi, batubara, dan minyak kelapa sawit saat ini mengalami pertumbuhan yang negatif.

Soal kesempatan kerja yang paling rumit dihadapi oleh negeri ini, sektor pariwisata ternyata mampu menyumbang 9,8 juta lapangan pekerjaan, atau sebesar 8,4% secara nasional dan menempati urutan ke-4 dari seluruh sektor industri. Dalam penciptaan lapangan kerja, sektor pariwisata tumbuh 30% dalam waktu 5 tahun. "Itu pertumbuhan yang sangat signifikan," ujar pria yang akrab disapa AY ini.

Pariwisata disebut sebagai sektor pencipta lapangan kerja termurah, karena bisa meng-create job opportunity hanya dengan USD 5.000 per satu pekerjaaan.

"Coba bandingkan dengan rata-rata industri lainnya yang sudah sebesar USD 100.000 per satu pekerjaan. Atas dasar potret perekonomian kita seperti itu, maka pariwisata ini memang sektor yang paling seksi untuk dijadikan core business saat ini. Saat ini ada lima yang menjadi prioritas nasional, yakni infrastructure, pangan, energy, maritime, dan Pariwisata," jelas AY panjang lebar.

Aief juga menekankan pada masalah TTI, yaitu Trade, Tourist, dan Investment. Dia ingin mengubah urutan singkatan itu, T pertama akan diubah menjadi tourism, lalu mendorong T kedua yaitu trade, dan ujungnya adalah I atau investasi.

"Kalau sudah terbangun tourism-nya, bisa dengan mudah trading dan mencari investor yang hendak bergabung membangun destinasi dan atraksi buatan," tutupnya. (wsw/wsw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads