Supaya ada kesepahaman tentang konsep wisata halal, pemerintah NTB melalui Disbudpar NTB mengadakan dialog dua arah dengan para pelaku usaha wisata. Guide wisata diharapkan menjadi penyambung dengan turis terkait konsep halal itu.
"Upaya sosialisasi yang terus menerus dilakukan agar mereka tahu perkembangan konsep halal dari pemerintah seperti apa. Karena dengan acara ini pula salah satu bentuk kita memperhatikan guide," ujar Kabid Destinasi Disbudpar NTB Agus Hidayatulloh di Hotel Grand Legi, Jalan Sriwijaya, Kota Mataram, Kamis (22/9/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meminta dukungan dalam rangka memperkuat posisi NTB sebagai destinasi halal. Pesertanya adalah pelaku industri hotel, akademisi, pemilik restoran, dan beberapa komunitas, kumpulan guide. Akademisi tentu sebagai narasumber bagi pelaku usaha," jelas Agus.
Salah satu narasumber dialog ini, Akhmad Saufi dari pusat kajian pariwisata Universitas Mataram mengatakan bahwa konsep halal merupakan sebuah trik pemasaran. Oleh karenanya, implementasi kata halal harus dipraktikkan oleh para pelaku usaha kepada para tamunya.
"Halal itu sudah dari dulu, sekarang jadi pemasaran pariwisata. Halal ini jadi branding. Potensi kita memang dari masyarakat muslim. Halal di Lombok menjadi karakteristik," urai Saufi.
"Halal dari produk nyata adalah dari perilaku kejujuran, kesabaran, dan keikhlasan," imbuh Saufi yang juga dosen dari Fakultas Ekonomi Unram ini.
Lebih lanjut dicontohkan Saufi, implementasi wisata halal ketika guide mengajak turis dan mengenalkan barang, diharapkan memberitahu harga produk dengan jujur. Karena banyak yang memeras kejadian yang tadinya turis mau melihat proses kesenian malah diarahkan ke destinasi lain.
Dalam paparannya, pariwisata di Lombok mengalami 4 fase tahun secara formal. Tahun 1986 wisata Lombok ditandai ketika Pantai Senggigi dibangun Hotel Kila. Kemudian kata Saufi pada tahun 1999, berkembang persepsi masyarakat bahwa pariwisata merupakan industri milik orang kaya saja.
"Tahun 2000 terjadi kerusuhan dan tidak ada sense of belonging terhadap kawasan wisata. Akibatnya, sebagian besar sarana dan prasarana di Lombok rusak," jelas dia.
Kemudian lanjut Saufi, fase ketika warga menyadari pentingnya pariwisata pada tahun 2001-2005 dibarengi mati suri pariwisata Indonesia karena berbagai musibah. Setelah tahun 2006, masyarakat baru merasakan hasil industri kecil dampak pariwisata.
"Fase terakhir adalah tahun 2014 sampai sekarang baru masuk pariwisata yang memiliki rencana dan salah satunya mengadopsi konsep halal. Karena NTB punya potensi di situ. Karena pariwisata ini akan terus berproses dan tidak sekali jadi," tutup dia.
(rdy/rdy)












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Agar Turis Betah, Pemerintah Malaysia Minta Warga Lebih Ramah