Gunung Rinjani jadi satu destinasi yang diincar para pendaki dari seluruh Indonesia. Namun sayang, ulah pendaki nakal yang tidak bertanggung jawab membuat gunung cantik ini kerap dipenuhi oleh sampah.
Meski sudah berulang kali dibersihkan, namun nampaknya hal itu akan jadi sia-sia jika tidak dibarengi dengan kesadaran personal para pendaki untuk tidak membuang sampah sembarangan. Lalu Muhammad Faozal, Kepala Dinas Pariwisata NTB pun tengah menggodok rencana untuk memberlakukan sampah berbayar di Gunung Rinjani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faozal juga dibuat kesal oleh ulah para pendaki yang tidak membawa turun lagi sampahnya. Sampah berbayar ini dimaksudkan Faozal agar para pendaki disiplin soal membuang sampah yang mereka bawa ketika mendaki gunung.
"Ini namanya sampah berjaminan, kalau dia nggak bawa sampahnya turun, uang jaminannya tidak bisa diambil," kata Faozal.
Besarnya uang jaminan sampah ini pun tidak tanggung-tanggung, sebesar Rp 500 ribu rupiah per orang. Besarnya uang jaminan sampah ini berlaku bagi turis asing maupun turis lokal.
Jadi sebelum mendaki, traveler akan dicek membawa barang-barang apa saja, kemudian diwajibkan membayar uang jaminan sampah sebesar Rp 500 ribu tadi.
Uang jaminan ini bisa diambil lagi bila pendaki terbukti membawa turun kembali sampah yang dibawanya. Jika tidak, siap-siap saja uang Rp 500 ribu akan melayang.
"Paling banyak sampah plastik makanan, aqua, bungkus popmie. Itu ya ulah para pendaki-pendaki itu. Berkarung-karung itu kami bawa turun," kecam Faozal.
Menurut Faozal rencana ini akan difinalisasi dengan pihak taman nasional. Diharapkan pada saat dibuka kembali pada 1 April 2017, rencana sampah berbayar ini sudah bisa dilaksanakan. Kalau sudah begini, traveler jangan bandel ya buang sampah sembarangan dan mengotori Gunung Rinjani!
(rdy/rdy)












































Komentar Terbanyak
Wanita Palembang Nekat Nyamar Jadi Pramugari, Batik Air Buka Suara
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Melawai Plaza: Markas Perhiasan Jakarta yang Melegenda Itu Tak Lagi Sama