Bubu merupakan alat tangkap ikan tradisional yang masih digunakan oleh masyarakat Wakatobi. Bentuknya seperti kubus dengan ukuran yang bermacam-macam. Benda ini termasuk ke dalam alat pancing yang ramah lingkungan karena terbuat dari bambu.
detikTravel mendapat kesempatan ke Collosseum beberapa waktu lalu. Traveler yang menyelam di spot Collosseum bisa menemukan bubu. Bubu diletakkan di antara karang untuk menjebak ikan yang berada di situ. Parahnya bubu dijepit dan diganjal dengan karang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bubu biasanya dipasang dengan menggunakan tali ke substrat. Jika dipasang di area terumbu karang, biasanya bubu menggunakan celah-celah pada karang mati atau hidup untuk mengeratkan pemasangannya. Hal ini dianggap lebih efisien oleh pemasang.
detikTravel pun menemukan bubu yang sudah tidak terpakai. Bubu hanya diletakkan begitu saja di dalam air terlilit dengan plastik dan karang mati.
Bagaimana kalau bubu dipindahkan? Ternyata sama saja, karena karang yang digunakan sebagai penahan otomatis akan ikut terluka.
"Kalau sudah jelek dibiarkan begitu saja di area terumbu. Ya memang bisa jadi rumpon, tapi jika cukup besar dan pemasangannya demikian bisa menutupi karang hidupnya," jelas Dyah.
Hal ini bisa membuat karang yang tadinya hidup malah jadi mati. Karena bubu menghalangi sinar matahari dan membuat sedimen menumpuk di permukaan karang.
"Karena bubu menempel ke koloni karang, jadi susah juga buat koloni tersebut untuk membersihkan diri dari sedimen," ungkap Dyah.
Menurut Dyah, bubu merupakan alat tangkap yang statis. Namun pemasangannya pada karang akan berbahaya bagi kelangsungan koloni.
Yuk kita lestarikan alam dengan menggunakan bubu secara baik dan benar. Sehingga laut tetap terjaga dan budaya kita juga tetap lestari. (bnl/fay)












































Komentar Terbanyak
Wanita Palembang Nekat Nyamar Jadi Pramugari, Batik Air Buka Suara
Nyeleneh! Jemaah Zikir di Candi Prambanan: Mau Lepaskan Kutukan Roro Jonggrang
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru