Damainya Imlek di Peunayong, Aceh: Bukti Indahnya Keberagaman Agama

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Damainya Imlek di Peunayong, Aceh: Bukti Indahnya Keberagaman Agama

Agus Setyadi - detikTravel
Minggu, 29 Jan 2017 17:30 WIB
Foto: Agus Setyadi
Jakarta - Asap pembakaran dupa memenuhi seisi ruangan Vihara Dharma Bhakti Banda Aceh. Aromanya yang khas menusuk hidung. Warga etnis Tionghoa datang silih berganti untuk beribadah dan memanjatkan doa. Mereka bersuka cita merayakan Imlek 2568 atau tahun baru China 2017.

Dupa beragam ukuran memenuhi vihara yang membuat asap sisa-sisa pembakarannya mengepul dan membuat mata perih. Di salah satu sudut Vihara, panitia Imlek sibuk melayani warga yang hendak beribadah. Di sana mereka mengambil peralatan seperti dupa, lilin atau lainny lalu berdoa, dan meninggalkan lokasi.

Prosesi ibadah berjalan lancar dengan aparat kepolisian dan TNI berjaga-jaga di pintu masuk Vihara. Selain warga etnis Tionghoa, tak ada yang diizinkan masuk ke dalam. Warga pribumi memenuhi di luar pagar melihat langsung jalannya ibadah. Mereka berdiri tertib tidak mengusik ketenangan umat Budha.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berjarak ratusan meter dari Vihara Dharma Bhakti, suara tabuh gendang menggema di belakangViharaSakyamunniPeunayong Banda Aceh. Satu Barongsai meliuk-liuk menghibur ratusan warga. Sorak riuh penonton terdengar mengiringi aksi barongsai yang mengundang decak kagum warga.
Damainya Imlek di Peunayong, Aceh: Bukti Indahnya Keberagaman AgamaRati Puspasari (19) (Agus Setyadi/detikTravel)
Rati Puspasari, Gadis Pribumi Berjilbab Merah

Kru pertunjukan barongsai tidak hanya warga etnis China saja. Satu gadis pribumi berjilbab merah, baju dan celana berwarna serupa ikut ambil bagian. Ia terlihat lihai memainkan alat musik simbal. Dara bernama Rati Puspasari (19) ini sudah empat tahun bergabung dengan tim barongsai Golden Dragon.

"Dulu awalnya iseng-iseng lihat orang ini tampil. Terus diajak gabung, karena menarik saya ikut gabung," kata Rati saat ditemui detikTravel, Sabtu (28/1/2017).

Selama bergabung sebagai anggota aktif, Rati sudah empat kali ikut dalam pertunjukan pada perayaan imlek. Ia menjadi bagian dari tim barongsai binaan Yayasan Hakka Aceh sejak 2013 silam. Selama itu pula, ia pernah ikut ajang perlombaan di beberapa provinsi di Indonesia.

Pementasan barongsai itu menandakan jalinan persaudaraan dan toleransi yang kentaldiPeunayong, yangmerupakanpecinannya Aceh. Di kota yang terletak dipinggirKrueng Aceh itu, hidup beragam etnis dengan beragam agama dan kepercayaan. Tidak terdengar ada kericuhan antar umat beragama di sini.
Damainya Imlek di Peunayong, Aceh: Bukti Indahnya Keberagaman AgamaWarga sedang berdoa (Agus Setyadi/detikTravel)
Kho Khie Siong, Ketua Umum Perkumpulan Hakka Banda Aceh

Umat minoritas bebas beribadah menurut agama masing-masing meski provinsi berjuluk Serambi Mekkah menerapkan syariat Islam. Mereka di sana saling menghormati satu sama lain dan tidak saling mengusik. Di dekat Vihara Buddha Sakyamuni terdapat dua vihara lainnya, yaitu Maitri dan Dewi Samudera. Ketiga vihara ini berdampingan dengan Gereja Protestan Indonesia bagian Barat. Di dekatnya lagi ada Gereja Methodist. Lalu, tak jauh dari situ, di ujung Jalan Panglima Polem berdiri megah sebuah masjid.

"Toleransi dalam ibadah keagamaan untuk akar rumput masyarakat umum tidak ada gesekan sama sekali," kata Ketua Umum Perkumpulan Hakka Banda Aceh Kho Khie Siong saat ditemui.

Di pusat pasar Peunayong Banda Aceh, pedagang dari berbagai etnis berbagi lapak. Mereka saling berinteraksi di antara lalu lalang para pembeli. Suasana Gang Pasar Sayur, di Jalan WR. Supratman, Peunayong, Banda Aceh, selalu ramai saban hari. Meski berbeda etnis, pembeli di sana tidak membeda-bedakan saat berbelanja.

Menurut sejarah, hubungan antara Aceh dan China telah terjalin sejak abad ke 17 masehi. Saat itu, para pedagang dari China silih berganti datang ke Aceh. Mereka adalah pedagang musiman dan ada juga yang permanen. Mereka tinggal di perkampungan China di ujung kota dekat pelabuhan.

Rumah mereka berdekatan satu sama lainnya. Lokasi yang dulu digunakan etnis China sebagai tempat menurunkan barang sebelum didistribusikan kini dikenal dengan nama Peunayong. Kata Peunayong sendiri berasal dari "Peu payong" yang berarti memayungi, melindungi. Dalam sebuah hikayat disebutkan bahwa, Peunayong merupakan tempat Sultan Iskandar Muda memberikan perlindungan atau menjamu tamu kerajaan yang datang dari Eropa dan Tiongkok.

Warga China di Banda Aceh merupakan generasi ke-4 atau ke-5 dari buyut mereka yang datang pada abad 19. Mereka adalah suku Khek, yang berasal dari Provinsi Kwantung, Tiongkok. Mereka belum bercampur dengan suku Kong Hu Cu, Hai Nan, dan Hok Kian.

"Penduduk China paling banyak tinggal di Peunayong," jelas Kho Khie Siong.

Hal itulah yang menyebabkan masyarakat Banda Aceh melabelkan Peunayong sebagai kampung China. Kerukunan umat beragama di sana hingga kini masih terjaga. Saat bulan Ramadan, misalnya, warga etnis Tionghoa ikut menjajakan penganan berbuka. Begitu juga saat hari-hari besar agama lain, warga non muslim tetap leluasa merayakannya.

Kehidupan masyarakat etnis China dan suku asli Aceh terbilang harmonis. Kho yang lahir dan dibesarkan di Aceh ini tidak pernah merasakan adanya tekanan dari masyarakat Aceh saat melaksanakan ibadah. Di Banda Aceh, belum pernah ada keributan antara satu agama dengan agama lainnya.

"Tidak pernah ribut antara agama Islam dengan agama Hindu, Budha, dan Kristen. Tidak pernah," jelas pria yang akrab disapa Aky ini.

Selain Peunayong, kampung keberagaman di Banda Aceh yaitu Kampung Mulia dan Kampung Laksana. Di sana, juga dihuni ragam pemeluk agama baik Islam, Nasrani, dan Budha dan berbagai etnis. Khusus di Kampung Mulia, terdapat rumah ibadah antar umat beragama dalam jarak tidak terlalu jauh.

Selain masjid sebagai rumah ibadah warga mayoritas, juga terdapat tiga gereja masing-masing Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) yang bersebelahan dengan Gereja Methodis Indonesia (GMI) di Jalan Pocut Baren, dan gereja adat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) di Jalan Pelangi. Kemudian ada pula tiga vihara di dalamnya.

Meski Aceh berstatus daerah syariat Islam, kenyamanan beribadah masyarakat non-muslim amat terjamin. Penduduk Aceh memang mayoritas muslim, namun ada juga Nasrani, Budha, dan Hindu. Bedasarkan sensus penduduk 2010 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 4.413.244 atau 98,18 persen penduduk Aceh beragama Islam. Sedangkan pemeluk Kristen berjumlah 50.309 jiwa, Katolik 3.315 jiwa, Budha 7.062 jiwa, Hindu 136 jiwa, dan Khong Hu Chu 36 jiwa.

Penduduk Kota Banda Aceh berjumlah 223.446 jiwa. Dari jumlah itu, sebanyak 216.941 jiwa memeluk Islam, 1.571 beragama Kristen, 431 Katolik, 2.535 memeluk Budha, 3 orang beragama Khong Hu Chu, dan 50 jiwa beragama Hindu.

Sebaran terbanyak pemeluk Kristen, Katolik, Budha, dan Islam yaitu di Peunayong, Kampung Mulia dan Kampung Laksana. Ketiga desa ini terletak di Kecamatan Kuta Alam Banda Aceh.

Di Banda Aceh terdapat empat gereja yakni GPIB, GMI, HKBP, dan Gereja Khatolik Hati Kudus yang masing-masing memiliki sekolah sendiri. Selanjutnya untuk umat Budha ada empat rumah ibadah, yaitu Vihara Sakyamuni, Vihara Maitri, Vihara Dewi Samudra, dan Vihara Dharma Bhakti. Sedangkan bagi umat Hindu juga memiliki Kuil Palani Andawer di Jalan Teugku Dianjong, Keudah, atau hanya berjarak puluhan meter dari Masjid Jamik Keudah.

Keberadaan rumah ibadah di ibukota Provinsi Aceh ini memiliki izin resmi dari pemerintah, sehingga tetap dijaga keberadaannya oleh masyarakat, tidak pernah diusik. Seorang warga Tionghoa, Hendry, mengatakan sudah tinggal di Aceh sejak lahir. Masyarakat Aceh dan China saling berkunjung satu sama lain untuk membangun silaturrahmi.

"Kamisalingbersilaturrahmi," jelasnya.
Damainya Imlek di Peunayong, Aceh: Bukti Indahnya Keberagaman AgamaSeorang warga berdoa dengan disertai penyalaan dupa (Agus Setyadi/detikTravel)

Zaini Abdullah, Gubernur Aceh

Gubernur Aceh Zaini Abdullah, dalam beberapa kesempatan sempat menyinggung soal toleransi di Tanah Rencong. Zaini mencontohkan, di Banda Aceh berdiri gereja sejak puluhan tahun silam yang letaknya tak jauh dari Masjid Raya Baiturrahman. Keberadaan rumah ibadah umat Kristiani tersebut tidak pernah diganggu oleh masyarakat mayoritas.

Selain itu, di kawasan Peunayong juga terdapat kuil dan kelenteng. Umat non-muslim juga bebas beribadah di sana. Hal ini, jelas Zaini, membuktikan toleransi di Aceh sangat tinggi.

"Toleransi di Aceh cukup tinggi. Saat Aceh di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, juga sudah berhubungan dengan semua negara, bukan hanya dengan negara Islam saja," kata Zaini dalam pertemuan dengan Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Swedia merangkap Latvia, Bagas Hapsoro di Pendopo Gubernur, Kamis (7/1) tahun lalu.

Untuk menjaga hubungan antara warga Tionghoa dengan penduduk pribumi, Yayasan HAKKA pada perayaan tahun baru Imlek 2566 atau 2015 lalu mendeklarasikan Peunayong sebagai kampung keberagamaan. Sejak pendeklarasian itu, mereka kerap menggelar pertunjukan berkolaborasi dengan kesenian lokal.

Beberapa waktu lalu, pernah ada pertunjukan barongsai tampil dengan Seudati, Rapai Geleng dan sejumlah tarian Aceh lainnya. HAKKA Banda Aceh juga berkominten untuk terus membangun keberagaman dan toleransi dengan masyarakat Aceh.

Pada tahun baru Imlek kali ini yang dinamakan dengan ayam api, Aky berharap toleransi umat agama di Aceh khususnya dan Indonesia umumnya terus ditingkatkan. Ia juga mempunyai harapan agar perekonomian Indonesia semakin baik ke depannya.

"Jangan ada keributan apalagi dalam hal keagamaan. itu sangat mengganggu sekali perkembagan ekonomi kita," ungkap Aky.

Toleransi umat beragama di Aceh, kata Aky, menjadi tolak ukur bagi warga di luar tanah Rencong. Menurutnya, orang di luar Aceh terus memantau kerukunan antar umat beragama di daerah yang resmi menerapkan syariat Islam sejak 2002 silam.

"Saya punya pengalaman ada teman datang dari Lampung sekitar 20 orang. Mereka kaget begitu datang ke Aceh tidak seperti yang dibayangkan dan digambarkan orang. Begitu mereka turun kapal dari Sabang hanya satu kata yang mereka sebut "ternyata orang Aceh ramahnya minta ampun". Begitu kata mereka katanya," beber Aky.

"Itu membuat persepsi orang itu dan mereka akan sampaikan ternyata Aceh itu luar biasa," jelas Aky. (msl/msl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads