Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 14 Feb 2017 16:15 WIB

TRAVEL NEWS

Ini Wajah Baru Masjid Baiturrahman Aceh yang Mirip Nabawi

Agus Setyadi
detikTravel
Penempakan depan Masjid Raya Baiturrahman (Agus Setyadi/detikTravel)
Penempakan depan Masjid Raya Baiturrahman (Agus Setyadi/detikTravel)
Banda Aceh - Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh bersolek. Tampilannya seperti Masjid Nabawi di Madinah, pekarangan kini diganti marmer dan ditambah 12 payung raksasa.

Meski belum sepenuhnya siap, kehadiran payung elektrik ini menjadi daya tarik bagi wisatawan. Foto selfie di bawahnya dengan latar belakang masjid mulai ramai bertebaran di media sosial. Warga sekitar Banda Aceh menjadikan lokasi ini sebagai objek wisata baru.

Menjelang sore atau siang hari, beberapa payung dibiarkan mengembang. Jamaah salat fardhu biasanya menyempatkan diri untuk melihat-lihat secara dekat keberadaan payung. Meski demikian, beberapa petugas keamaan masjid berjaga-jaga.

Pengerjaan pembangunan landscape dan infratruktur saat ini sudah mencapai 90 persen. 12 unit payung dan lantai marmer sudah dipasang. Sebuah kolam dibangun di halaman depan untuk memperindah masjid kebanggan masyarakat Tanah Rencong.

Pemandangan payung yang dibuka saat malam (Agus Setyadi/detikTravel)Pemandangan payung yang dibuka saat malam (Agus Setyadi/detikTravel)
Gubernur Aceh Zaini Abdullah sudah melakukan peluncuran awal (soft launching). Ia menekan tombol secara simbolis sehingga payung mengembang secara perlahan. Butuh waktu beberapa menit sehingga payung terbuka lebar.

"Jika pengembangan tahap pertama ini selesai seluruhnya, maka masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai rumah ibadah bagi kaum muslimin, tapi juga menjadi pusat pengembangan peradaban Islam terbesar di Asia Tenggara," kata Zaini dalam sambutannya saat soft launching di halaman masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Selasa (14/2/2017).

Pembangunan tahap pertama ini sasarannya yaitu melebarkan halaman dan memasang 12 unit payung elektrik. Enam payung dipasang disebelah selatan dan sisanya di utara masjid. Selain itu, proyek senilai Rp 458 miliar ini juga mencakup pembangunan basement sebagai lokasi parkir mobil dan sepeda motor. Dalam perencanaannya, areal parkir bawah tanah ini bisa menampung 254 unit mobil dan 343 sepeda motor.

Di basement itu juga dilengkapi tempat wudhu, serta toilet pria dan wanita. Semua bahannya terbuat dari batu marmer Italia atau Spanyol. Pemerintah Aceh memang mempermak landscape ini sehingga mirip dengan Masjid Nabawi.

Sementara untuk bagian atas, pada pinggiran halaman akan ditanam 33 pohon kurma dan satu pohon geulumpang. Sedangkan di tengah halaman, dibangun kawasan hijau dengan cara menanam rumput hijau dan berbagai jenis bunga warna warni.

Pembangunan infratruktur ini juga ramah disabilitas. Dari basement menuju plaza atau pekarangan, terdapat beberapa lift. Wisatawan yang berkunjung ke sana, dapat menikmati keindahan Masjid Baiturrahman dari berbagai sudut.

"Apa yang kita saksikan saat ini telah berdiri 12 unit payung yang
menyerupai payung di Masjid Nabawi, dimaksudkan tidak saja untuk menambah keindahan masjid, namun juga sebagai sarana untuk kenyamanan beribadah para jamaah," jelas Zaini.

Berhiaskan lampu-lampu dari dalam masjid, payung jadi tampak berkilau (Agus Setyadi/detikTravel)Berhiaskan lampu-lampu dari dalam masjid, payung jadi tampak berkilau (Agus Setyadi/detikTravel)
Pemerintah Aceh nantinya akan menjadikan kawasan kompleks Masjid Raya Baiturrahman sebagai pusat beragam aktivitas yang mendukung fungsi masjid sebagai sentral kegiatan umat Islam di Aceh.

Saat ground breaking pada 2015 silam, Zaini mengungkapkan pembangunan Masjid Raya dilakukan dalam dua tahap, yaitu jangka pendek dan jangkap panjang. Untuk jangka pendek, akan dilakukan pemasangan 12 Unit payung elektrik di pelataran masjid. Selain itu, juga akan dibangun berbagai sarana lain, seperti taman, rumah genset, pusat pengolahan air, drinking water system dan perbaikan beberapa interior bangunan.

Sedangkan target jangka panjang, jelas Gubernur, akan dilakukan perluasan kawasan masjid. Rinciannya, untuk kawasan barat akan dijadikan sebagai pusat pendidikan. Di lokasi tersebut akan dibangun TPA dan sekolah yang fokus pada pendidikan agama Islam.

"Bagi anak-anak kami yang ingin belajar tentang Alqur'an atau ingin menjadi hafiz, nantinya dapat belajar di pusat pendidikan itu. Guru-guru agama pasti kita pilih yang terbaik untuk menjadi guru di TPA dan sekolah itu," terang Zaini Abdullah.

Gubernur yang kerap disapa Abu Doto ini menambahkan, untuk kawasan selatan nantinya akan jadikan sebagai pusat berbagai aktivitas Islam. Di lokasi itu akan dibangun guest house dan covention center.

"Bagi wisatawan yang ingin belajar tentang Islam atau ingin menikmati keindahan masjid dan Kota Banda Aceh, bisa menginap di guest house itu dan semua unit itu dikelola dengan system manajemen islam," ungkap Zaini saat itu.

Selanjutnya, untuk kawasan timur akan dijadikan sebagai media center. Di areal itu akan dibangun berbagai sarana penyiaran berita islami dan penyebarluasan informasi soal agama Islam. Sebuah Departemen Store, jelas Gubernur, juga akan dibangun di kawasan timur.

Pemandangan cantik dari bawah payung (Agus Setyadi/detikTravel)Pemandangan cantik dari bawah payung (Agus Setyadi/detikTravel)
Bangunan tersebut nantinya akan difungsikan sebagai central bisnis yang akan dikelola oleh pengurus Masjid Raya Baiturrahman. Sedangkan zona utama akan dibangun pusat percetakan dan Galeri serta berbagai sarana untuk pameran.

Sementara kawasan utara nantinya akan terhubung dengan Krueng Aceh sehingga menambah keindahan dan keunikan masjid. Saat soft launching semalam, proses pembangunannya baru hampir selesai tahap awal.

"Masjid Raya Baiturrahman tempat kita berada saat ini, diawal berdirinya menjadi simbol peradaban islam dan pusat perjuangan rakyat Aceh mempertahankan kesultanan Aceh Darussalam," ungkap Zaini tadi malam.

Masjid Baiturrahman yang dibangun Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam pada tahun 1022 H/1612 M ini menjadi saksi bisu perang, tsunami, dan damai Aceh. Pada masa penjajahan Belanda, masjid tersebut sempat dibakar pada 10 April 1873. Berselang beberapa tahun kemudian, serdadu penjajah membangun kembali masjid pada tahun 1877 untuk menarik perhatian serta meredam kemarahan masyarakat Tanah Rencong.

Akhir 2016 lalu, Masjid Baiturrahman meraih predikat sebagai World's Best Halal Cultural Destination, pada ajang World Halal Tourism Award (WHAT) yang digelar di Abu Dhabi. Predikat itu membuat Pemerintah Aceh semakin meningkatkan sarana dan prasarana masjid.

"Prestasi ini tentu menuntut kita untuk bekerja lebih keras lagi, meningkatkan kualitas sarana dan prasarana dilingkungan Masjid Raya Baiturrahman," jelas Zaini.

"Kepada para pihak yang terlibat dalam proyek Pengembangan Landscape dan Insfrastruktur Masjid Raya Baiturrahman ini, agar dapat lebih memacu kinerjanya, sehingga seluruh proyek ini dapat selesai tepat waktu sesuai dengan harapan kita bersama," kata gubernur.

Walau sudah dilakukan peluncuran, namun pagar yang menutup proyek pembangunan belum sepenuhnya dibuka. Meski demikian, pengunjung masih dapat menikmati keindahan masjid dengan masuk lewat masuk sebelah utara dan selatan masjid.

Penasaran dengan nuansa baru yang mirip Masjid Nabawi? Yuk kunjungi Masjid Raya Baiturrahman! (bnl/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED