Hal tersebut disampaikan dalam acara 'Workshop Sosialisasi Kebijakan Kemenpar bagi Jurnalis Greater Bali' yang digelar oleh Kementerian Pariwisata. Acara ini berlangsung di Rani Hotel Kuta, Bali, Jumat (7/4) kemarin.
"Untuk mencapai target pariwisata 2019, Kemenpar menerapkan kebijakan dan program prioritas yang dilaksanakan tahun ini yakni digital tourism, homestay desa wisata, dan aksesibilitas udara sebagai top 3 program," jelas Sekretaris Kementerian Pariwisata Ukus Kuswara dalam rilis kepada detikTravel, Senin (10/4/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hampir 63% transaksi jasa travel dilakukan secara online sehingga bila travel biro tidak segera menyesuaikan diri ke digital atau tetap konvensional maka nasibnya akan seperti Wartel," kata Arief.
Digital tourism, menurut Menpar Arief Yahya, menjadi strategi yang harus dilakukan untuk merebut pasar global khususnya pada 12 fokus pasar yang tersebar di 26 negara. Program digital tourism ini dimulai dengan meluncurkan Indonesia Tourism Exchange (ITX).
ITX merupakan platform digital market place dalam ekosistem pariwisata atau sebagai pasar digital yang mempertemukan buyer dan seller, di mana semua travel agent, akomodasi, atraksi dikumpulkan untuk dapat bertransaksi.
Kemudian untuk program homestay desa wisata yang dilaksanakan mulai tahun ini merupakan kontribusi Kemenpar terhadap pendukungan program 1 juta rumah terjangkau bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang dibuat Kementerian PURR.
Kemenpar berkontribusi membangun 100.000 homestay yang dikaitkan dengan konsep desa wisata sebagai amenitas akan dikembangkan pada 2019. "Untuk memenuhi kebutuhan amenitas di 10 destinasi prioritas dalam waktu cepat adalah membangun homestay desa wisata," ujar Arief.
Sementara itu aksesibiltas udara merupakan program strategis yang harus diwujudkan tahun ini. Sekitar 80% kedatangan wisman ke Indonesia menggunakan moda transportasi udara sehingga tersedianya kapasitas kursi pesawat yang cukup, menjadi kunci untuk mencapai target 2017 hingga 2019 mendatang.
Tersedianya kapasitas kursi sebanyak 19,5 juta oleh perusahaan maskapai penerbangan Indonesia dan asing saat ini, menurut perhitungan Arief hanya cukup untuk memenuhi target kunjungan 12 juta wisman pada 2016.
Sedangkan untuk target 15 juta wisman tahun 2017 membutuhkan tambahan 4 juta kursi. Untuk target 18 juta wisman tahun 2018 membutuhkan tambahan 3,5 juta kursi atau menjadi 7,5 juta. Sedangkan untuk mendukung target 20 juta wisman pada 2019 perlu tambahan 3 juta kursi atau menjadi 10,5 juta kursi pesawat.
Dalam memenuhi tambah 4 juta kursi untuk mencapai target 15 juta turis 2017. Kemenpar melakukan strategi 3 A yaitu Airlines, Airport & Air Navigation, Authorities, termasuk meningkatkan kapasitas bandara. Tahun 2017 tanpa pembangunan fisik bandara namun perlu dilakukan penataan slot waktu, perpanjangan jam operasional, melakukan deregulasi, dan pemanfaatan IT dan SDM.
Sementara itu untuk memenuhi kebutuhan tahun 2018 perlu dilakukan pengembangan bandara secara terbatas (1 tahun) meliputi landasan pacu apron Bali, serta perluasan terminal Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Internasional Sam Ratulangi, dan Bandara Internasional Lombok. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan tahun 2019 perlu dilakukan pembangunan bandara baru (waktu 2-3 tahun) yakni New JOG di Yogya, New Bali, New Banten dan New BDO di Bandung. (krn/krn)












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru