Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 28 Apr 2017 12:55 WIB

TRAVEL NEWS

Soal Dunia Penerbangan, Indonesia Bisa Belajar dari Tony Fernandes

Johanes Randy Prakoso
Redaksi Travel
Foto: Tony Fernandes di ajang WTTC 2017 Bangkok (Randy/detikTravel)
Foto: Tony Fernandes di ajang WTTC 2017 Bangkok (Randy/detikTravel)
Bangkok - Membicarakan dunia penerbangan, tak lepas dari sosok Tony Fernandes, CEO Grup AirAsia. Sosoknya yang sederhana, ceplas-ceplos dan bertanggung jawab begitu menginspirasi dunia penerbangan global.

Lahir pada 30 April 1964 di Kuala Lumpur, Malaysia, Anthony Francis Fernandes atau populer dikenal sebagai Tony Fernandes bisa disebut sebagai sosok inspiratif yang mereformasi maskapai AirAsia.

Bermula dari mimpi dan kerja keras, ia berhasil membangun AirAsia dari nol. Dari yang awalnya hanya memiliki dua pesawat hingga menjadi 200 pesawat, sampai berhasil menerbangkan sekitar 400 juta penumpang.

Kisah hidup Tony Fernandes dalam membangun maskapai AirAsia pun begitu menarik dan dibahas dalam satu sesi khusus di acara World Travel and Tourism Council (WTTC) 2017 di Grand Centara and Bangkok Convention Centre, Kamis kemarin (26/4/2017). Tidak hanya perjalanan hidup Tony, perjuangan dan tanggung jawabnya dalam mengelola AirAsia juga sangat inspiratif.

"Besar di Inggris, sejak menginjakkan kaki di Bandara Heathrow, maskapai bujet sudah ada dalam pikiran saya. Saat kecil saya bahkan memiliki sebuah kotak dengan tiga tulisan, pesawat, mobil balap dan united, satu grup sepakbola favorit saya kala itu, jika kita tidak bermimpi kita tak akan tahu, cerita Tony di panggung utama WTTC.

Kisah Tony dalam dunia penerbangan pun dimulai ketika ia dan Datuk Kamarudin Meranun membeli dan meluncurkan brand AirAsia pada 8 September 2002 di Malaysia. Sejak saat itu, kepiawaian Tony dalam mengembangkan bisnis maskapai telah diuji.

"Kami menghadapi banyak tantangan selama 60 hari pertama operasional, kami tidak dapat memprediksi hal yang akan terjadi pada kami," ujar Tony.

Dari maskapai kecil yang nyaris bangkrut, AirAsia pun mulai berkembang dengan berbagai program menarik. Tidak peduli saat iklim penerbangan mendukung atau tidak. Malah bagi AirAsia, krisis atau masalah malah bisa dijadikan suatu kelebihan untuk beriklan.

"Jangan sia-siakan krisis, perbanyak iklan tiga kali lipat," ujar Tony.

Dalam perjalanan AirAsia, sejumlah rintangan juga kerap berdatangan. Contohnya seperti kasus Bom Bali yang sempat membuat kabur para wisatawan yang ingin liburan ke Pulau Dewata. Namun bukannya gentar, Tony malah membuat promo menarik yang terbukti sukses.

"Kasus Bom Bali, kita buat sebuah kampanye, kursi gratis dan tak perlu takut pada terorisme, langsung sold out dalam waktu 5 menit," cerita Tony yang disambut gelak tawa para peserta konferensi.

Adapun satu peristiwa penting yang sempat menjadi pukulan besar sekaligus ujian terhebat bagi Tony dan AirAsia. Jatuhnya maskapai AirAsia dengan nomor penerbangan QZ 8501 rute Surabaya-Singapura pada 28 Desember 2014 menjadi satu-satunya musibah fatal yang menimpa AirAsia.

Entah bagaimana, David Scowsill selaku Presiden dan CEO WTTC yang merangkap sebagai moderator acara malah menanyakan hal itu. Ibaratnya membuka luka lama, ekspresi Tony yang ceria pun mendadak berubah serius.

"Saat itu bulan Desember, saya tidak pernah menyangka akan terjadi kejadian itu, rasanya kiamat seakan menimpa saya," kenang Tony.

Ketika itu, sejumlah pengacara Tony pun menyarankan ia untuk memantau saja dan jangan datang ke Indonesia. Namun didorong oleh rasa tanggung jawab, tanpa pikir panjang Tony segera terbang ke Surabaya. Di sana ia memimpin langsung proses pencarian dan bertemu langsung dengan keluarga korban.

"Saya tidak peduli apa kata legal, AirAsia adalah brand saya, saya terbang langsung ke Surabaya dan sempat tinggal beberapa lama dan menemui setiap anggota keluarga yang terkena musibah, itu adalah tanggung jawab saya," ujar Tony.

Bertanggung jawab dan apa adanya, itulah nilai yang identik dengan Tony. Dari krisis terburuk itu ia bangun dan belajar untuk lebih mengembangkan diri dan brand AirAsia. Selalu ada hal yang bisa dipetik, bahkan dari sebuah musibah terbesar sekali pun.

"Transparansi, keterbukaan dan rasa malu, semuanya seakan mengarah pada diri saya. Hal itu membuat Anda berkembang, Anda harus berada di sana, memimpin dari depan, jadilah orang yang sejati, itu adalah pendekatan yang saya ambil," ujar Tony.

Ucapan Tony yang begitu jujur itu pun otomatis mengundang tepuk tangan dari para peserta konferensi. Tony berhasil memukau hampir semua orang di lokasi acara dengan kisahnya. Sekiranya kisah hidup Tony dapat menjadi inspirasi bagi segenap pelaku penerbangan di Indonesia. Sekaligus para traveler untuk jangan pernah berhenti bermimpi dan berusaha mewujudkannya. (rdy/krn)
BERITA TERKAIT
NEWS FEED