"Sekarang ada lagi super yacht, itu satu kali datang untuk seminggu saja uang masuk USD 400 ribu. Jadi kita bicara Rp 6-7 miliar per minggu," kata Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Indroyono Susilo di Denpasar, Bali, Minggu (21/5/2017).
Kendala saat ini, menurut Endroyono, masih ada beberapa aturan dan regulasi yang dinilai tak lagi sesuai dengan teknologi kapal modern. Termasuk pelayanan untuk turis kelas atas yang cenderung tak mau direpotkan oleh birokrasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itu, Endroyono menyatakan, ada 5.000 super yacht di dunia dan 3.000 di antaranya parkir di perairan mediterania. Ada tren para kaum jetset ini untuk memarkirkan super yacht mereka ke Asia, namun hanya Thailand, Malaysia dan Singapura yang sudah siap dalam hal fasilitas dan pelayanan untuk menyambut.
"Tapi tiga negara itu tidak punya destinasi. Destinasinya kita, nah sekarang ini biarlah mereka parkir disana karena Indonesia belum selesai marinanya," ucap Indroyono.
Mantan Menko Maritim ini menilai Indonesia sebenarnya sudah siap untuk menjadi lokasi parkir yacht dan super yacht dengan galangan kapal yang ada. Namun berbeda dengan cruise karena Permenhub No 95 Tahun 2005 tentang Pedoman Penetapan Harga Jual Jasa Kepelabuhanan yang masih terlalu mahal dibandingkan negara tetangga.
"Cruise mintanya tiga hal, pertama simulasi data pelabuhan di Indonesia, kedua biaya yang dimurahkan dan ini sedang diusulkan Kemenpar ke Kemenhub masalah fee oleh Pelindo karena di Indonesia ongkosnya satu kali sandar itu USD 60.000," imbuh Indroyono.
"Di Singapura itu hanya USD 20.000 sekali sandar. Ketiga kapal itu sudah modern tapi aturan di kita mewajibkan 2 kapal pandu. Cruise itu sudah tidak perlu kapal pandu dan satu kapal pandu itu ribuan dolar. Jadi mereka bayar kapal pandu tapi tidak dipakai," tambahnya.
Walau demikian, Indroyono meyakinkan pengurusan visa, bea cukai dan hal lainnya untuk yachter dan super yachter sudah jauh lebih mudah melalui pelayanan online. Sehingga para yachter tak perlu lagi turun ke daratan hanya untuk mengurus perizinan.
"Sekarang sudah online untuk yacht, kalau ada ribut-ribut pengurusan lebih dari 30 menit, beritahu saya. Pelayanan dan pembayaran sudah digital karena kita menganut Custom, Imigration, Warranty dan Port," papar Indroyono.
"Spending per orang yachter ini kan USD 200 per hari, tapi cruise itu bisa sampai USD 1.000 per hari dan sudah banyak demand. Tapi untuk luar Bali, cruise belum ada yang mau karena Bali kan fasilitas pariwisatanya sudah (maju)," tutupnya. (vid/wsw)












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Melawai Plaza: Markas Perhiasan Jakarta yang Melegenda Itu Tak Lagi Sama
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru