Jelang Ramadan, Tradisi Dugderan Kembali Digelar di Semarang

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Jelang Ramadan, Tradisi Dugderan Kembali Digelar di Semarang

Angling Adhitya Purbaya - detikTravel
Selasa, 23 Mei 2017 09:32 WIB
Jelang Ramadan, Tradisi Dugderan Kembali Digelar di Semarang
Foto: Tradisi jelang Ramadan, Dugderan kembali digelar di Semarang (Angling/detikTravel)
Semarang - Tradisi Dugderan akan kembali digelar menjelang bulan Ramadan di Kota Semarang Jawa Tengah. Sebanyak 12 ribu orang akan berpartisipasi meramaikan acara ini.

Ada dua sesi atau acara yang akan dimulai hari Rabu (24/5) besok yaitu karnaval di Lapangan Simpanglima Semarang. Karnaval dimulai pukul 06.00 WIB dan diikuti TK, SD/MI, SMP/MTs. Mereka akan berjalan dari Taman Menteri Supeno atau Taman KB menuju Lapangan Simpang Lima dengan menampilkan berbagai kesenian Semarang.

Sesi kedua atau acara puncak akan digelar keesokan harinya yaitu Kamis (25/5) jam 12.15 WIB dimulai dari Halaman Balai Kota, Jalan Pemuda. Peserta akan menampilkan berbagai kesenian termasuk tarian khas sembari membawa patung Warak Ngendhog atau hewan fantasi simbol kerukunan ras di Semarang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karnaval akan diikuti berbagai elemen termasuk pelajar, drumband, komunitas lintas agama, pengusaha, seniman, dan sebagainya. Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi akan menaiki Kereta Kencana selaku Kanjeng Bupati Arya Purbaningrat. Karnaval akan mulai berjalan menelusuri Jalan Pemuda dan berhenti di Jalan Kolonel Sugiyono dan berjalan menuju Masjid Agung Semarang.

Inti dari Dugderan yaitu penyerahan Suhuf Halaqoh dari alim ulama Masjid Kauman kepada Kanjeng Bupati Arya Purbaningrat. Setelah Suhuf Halaqof dibacakan, maka akan dilakukan pemukulan bedug disertai suara meriam. Dua suara itulah yang menjadi cikal bakal nama acara Dugderan yaitu "dug, dug, dug," suara bedug dan "der, der, der," suara meriam.

"Dugderan adalah tradisi yang dilakukan Kota Semarang sejak tahun 1881 sebagai penanda dimulai awal bulan puasa," kata Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, Selasa (23/5/2017).

Tradisi tahunan Dugderan di Semarang (Angling/detikTravel)Tradisi tahunan Dugderan di Semarang (Angling/detikTravel)


Sebelum meninggalkan Masjid Kauman, Wali Kota akan membagikan kue khas Semarang, Ganjel Rel dan air Khataman Al Quran. Maknanya, warga harus merelakan hal-hal yang mengganjal ketika memasuki bulan Ramadhan, dan hati harus bersih maka diminumi air Khataman Al Quran.

Prosesi masih berlanjut, rombongan Wali Kota akan berjalan menuju Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) untuk menyerahkan Suhuf Halaqoh kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo selaku Raden Mas Tumenggung Probohadikusuma untuk diumumkan ke warga Jawa Tengah akan memasuki bulan Ramadhan.

Terkait acara puncak tersebut, Pemkot Semarang menghimbau agar masyarakat tidak melintas di sepanjang Jalan Pemuda mulai pukul 12.00 WIB. Jalan akan kembali dibuka setelah rombongan karnaval selesai melintas.

Tradisi ini digelar setiap menjelang bulan Ramadan (Angling/detikTravel)Tradisi ini digelar setiap menjelang bulan Ramadan (Angling/detikTravel)


Hendrar atau yang akrab disapa Hendi itu menjelaskan tradisi tersebut merupakan salah satu kegiatan yang menarik jumlah wisatawan. Setiap tahunnya berbagai event wisata digelar di Semarang dan mampu meingkatkan jumlah wisatawan. Tercatat tahun 2015 ada sekitar 51.880 wisatawan domestik dan mancanegara. Jumlah itu meningkat tahun 2016 menjadi 101.756 wisatawan.

"Tren positif tersebut akan terus saya dorong, kalau sebelumnya Kampung Pelangi sudah menarik perhatian internasional, lalu ada Semarang Night Carnival dan Festival Lampion Banjir Kanal Barat, maka Dugderan ini menjadi salah satu kegiatan yang juga akan kami dorong untuk menarik perhatian dunia Internasional," jelas Hendi. (wsw/wsw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads