Ada dua sesi atau acara yang akan dimulai hari Rabu (24/5) besok yaitu karnaval di Lapangan Simpanglima Semarang. Karnaval dimulai pukul 06.00 WIB dan diikuti TK, SD/MI, SMP/MTs. Mereka akan berjalan dari Taman Menteri Supeno atau Taman KB menuju Lapangan Simpang Lima dengan menampilkan berbagai kesenian Semarang.
Sesi kedua atau acara puncak akan digelar keesokan harinya yaitu Kamis (25/5) jam 12.15 WIB dimulai dari Halaman Balai Kota, Jalan Pemuda. Peserta akan menampilkan berbagai kesenian termasuk tarian khas sembari membawa patung Warak Ngendhog atau hewan fantasi simbol kerukunan ras di Semarang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Inti dari Dugderan yaitu penyerahan Suhuf Halaqoh dari alim ulama Masjid Kauman kepada Kanjeng Bupati Arya Purbaningrat. Setelah Suhuf Halaqof dibacakan, maka akan dilakukan pemukulan bedug disertai suara meriam. Dua suara itulah yang menjadi cikal bakal nama acara Dugderan yaitu "dug, dug, dug," suara bedug dan "der, der, der," suara meriam.
"Dugderan adalah tradisi yang dilakukan Kota Semarang sejak tahun 1881 sebagai penanda dimulai awal bulan puasa," kata Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, Selasa (23/5/2017).
Tradisi tahunan Dugderan di Semarang (Angling/detikTravel) |
Sebelum meninggalkan Masjid Kauman, Wali Kota akan membagikan kue khas Semarang, Ganjel Rel dan air Khataman Al Quran. Maknanya, warga harus merelakan hal-hal yang mengganjal ketika memasuki bulan Ramadhan, dan hati harus bersih maka diminumi air Khataman Al Quran.
Prosesi masih berlanjut, rombongan Wali Kota akan berjalan menuju Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) untuk menyerahkan Suhuf Halaqoh kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo selaku Raden Mas Tumenggung Probohadikusuma untuk diumumkan ke warga Jawa Tengah akan memasuki bulan Ramadhan.
Terkait acara puncak tersebut, Pemkot Semarang menghimbau agar masyarakat tidak melintas di sepanjang Jalan Pemuda mulai pukul 12.00 WIB. Jalan akan kembali dibuka setelah rombongan karnaval selesai melintas.
Tradisi ini digelar setiap menjelang bulan Ramadan (Angling/detikTravel) |
Hendrar atau yang akrab disapa Hendi itu menjelaskan tradisi tersebut merupakan salah satu kegiatan yang menarik jumlah wisatawan. Setiap tahunnya berbagai event wisata digelar di Semarang dan mampu meingkatkan jumlah wisatawan. Tercatat tahun 2015 ada sekitar 51.880 wisatawan domestik dan mancanegara. Jumlah itu meningkat tahun 2016 menjadi 101.756 wisatawan.
"Tren positif tersebut akan terus saya dorong, kalau sebelumnya Kampung Pelangi sudah menarik perhatian internasional, lalu ada Semarang Night Carnival dan Festival Lampion Banjir Kanal Barat, maka Dugderan ini menjadi salah satu kegiatan yang juga akan kami dorong untuk menarik perhatian dunia Internasional," jelas Hendi. (wsw/wsw)












































Tradisi tahunan Dugderan di Semarang (Angling/detikTravel)
Tradisi ini digelar setiap menjelang bulan Ramadan (Angling/detikTravel)
Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Agar Turis Betah, Pemerintah Malaysia Minta Warga Lebih Ramah