Tradisi kuno jelang bulan Ramadan di Kota Semarang, Jawa Tengah berlangsung meriah dengan arak-arakan hewan fantasi bernama Warak Ngendhog. Tari-tarian serta penampilan kostum unik juga membuat penonton dan wisatawan terhibur.
Rangkaian acara bertema 'Dugderan Meneguhkan Tekad Meraih Semarang Hebat' itu diawali dengan tari-tarian di halaman Balai Kota Semarang di Jalan Pemuda. Tarian Warak Ngendhog dengan menggendong patung hewan fantasi khas Semarang menjadi pembuka karnaval.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
"Dugderan menandakan kita dekat dengan Bulan Suci Ramadan. Dugderan menciptakan rasa guyub, rukun, persatuan dan kesatuan warga Kota Semarang. Wajar bila Menteri agama memberikan penghargaan Semarang sebagai Kota yang berpartisipasi aktif dalam pembinaan kerukunan umat beragama," kata Wali Kota yang akrab disapa Hendi itu dalam bahasa Jawa, Kamis (25/5/2017).
Dalam sambutannya, Hendi sempat meminta warga Semarang untuk mendoakan para korban bom Kampung Melayu. Usai sambutan, Hendi menabuh bedug menandakan acara dimulai.
Tim drumband dari Politeknik Ilmu Pelayaran beraksi memukai para penonton. Iring-iring pun berjalan di depan para tamu undangan. Berbagai arak-arakan warak, kembang manggar, dan tradisi tektekan juga ditampilkan dalam rangkaian rombongan.
Dari informasi Pemkot Semarang, peserta berjumlah sekitar 12 ribu orang terdiri dari siswa sekolah, mahasiswa, perusahaan, dan warga yang mewakili Kecamatannya.
![]() |
![]() |
Prosesi karnaval kemudian berjalan menuju Masjid Agung Semarang di Kauman. Di sana dilaksanakan penyerahan Suhuf Halaqoh dari alim ulama Masjid Kauman kepada Kanjeng Bupati Arya Purbaningrat.
Setelah Suhuf Halaqof dibacakan, maka akan dilakukan pemukulan bedug disertai suara meriam. Dua suara itulah yang menjadi cikal bakal nama acara Dugderan yaitu "dug, dug, dug," suara bedug dan "der, der, der," suara meriam.
Sebelum meninggalkan Masjid Kauman, Wali Kota akan membagikan kue khas Semarang, Ganjel Rel dan air Khataman Al Quran. Maknanya, warga harus merelakan hal-hal yang mengganjal ketika memasuki bulan Ramadhan, dan hati harus bersih maka diminumi air Khataman Al Quran.
Rombongan akan kembali berjalan menuju Masjid Agung Jawa Tengah. Di sana Kanjeng Bupati Arya Purbaningrat menyerahkan Suhuf Halaqoh kepada Gubernur Jawa Tengah yang kali ini diwakili oleh Sekda Provinsi Jateng, Sri Puryono selaku Raden Mas Tumenggung Probohadikusuma untuk diumumkan ke warga Jawa Tengah akan memasuki bulan Ramadan.
![]() |
Komentar Terbanyak
Ada Gerbong Khusus Merokok di Kereta, Kamu Setuju?
Terpopuler: Dedi Mulyadi Terancam Dicopot, Ini Penjelasan DPRD Jabar
Bisa-bisanya Anggota DPR Usulkan Gerbong Rokok di Kereta