Ritual Adat Barong Ider Bumi di Desa Kemiren Kecamatan Glagah, Banyuwangi digelar meriah. Tak hanya itu, dalam acara yang digelar tiap tanggal 2 Syawal ini dihadiri dan dibuka oleh Menteri Pariwisata, Arief Yahya dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Senin (26/6/2017).
Barong Ider Bumi merupakan tradisi leluhur masyarakat asli Banyuwangi, sebagai bentuk doa dan pengharapan, agar desa jauh dari pagebluk atau mara bahaya. Barong yang merupakan kesenian khas desa setempat diarak keliling penjuru desa, dengan diiringi gamelan, dan para sesepuh dan warga Desa setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Ardian/detikTravel |
Sepanjang jalan, tokoh masyarakat setempat membagikan uang koin yang dicampur dengan beras kuning dan bunga. Ritual ini disebut dengan sembur utik-utik. Ini pengibaratan mengusir roh jahat yang ada di sepanjang jalan desa. Sontak saja, uang recehan yang dilemparkan menjadi rebutan masyarakat dan anak-anak.
"Total uang untuk sembur utik-utik itu sekitar Rp. 10 juta. Ini merupakan donasi warga dan beberapa tokoh masyarakat," ujar Senari, Ketua Panitia Ritual Barong Ider Bumi Kemiren, kepada detikcom.
Foto: Ardian/detikTravel |
Menpar Arief Yahya menyatakan apresiasinya atas konsistensi Banyuwangi terus mengangkat tradisi budayanya menjadi sebuah atraksi yang menarik. Apa yang dilakukan masyarakat Desa Kemiren dengan mengangkat tradisinya sebagai atraksi budaya ini sudah tepat untuk pengembangan pariwisata.
"Desa Kemiren sudah bagus untuk atraksi budayanya. Ini penting, karena wisatawan yang datang ke Indonesia, 60 persennya karena tertarik budaya," kata Arief.
Dalam kesempatan itu, Arief juga menyerahkan bantuan barong dan seperangkat gamelan untuk warga Desa Kemiren.
Foto: Ardian/detikTravel |
Sementara itu, Bupati Anas mengatakan, tradisi ini adalah budaya yang hidup di masyarakat yang terus dilestarikan setiap tahunnya. Tradisi yang tumbuh dari masyarakat ini kemudian diperkenalkan kepada masyarakat luas dalam balutan pariwisata melalui rangkaian Banyuwangi Festival.
"Salah satu ciri Banyuwangi Festival sebagai sarana promosi wisata Banyuwangi adalah berakar pada budaya setempat. Saat daerah lain membawa tema global ke tingkat lokal, Banyuwangi justru sangat bangga memperkenalkan budaya lokal ke tingkat global. Kami ingin masyarakat luas tahu berapa agungnya tradisi lokal ini," kata Anas.
Menurut Anas, Desa Kemiren adalah salah satu desa di Banyuwangi yang pengembangan budayanya tumbuh luar biasa. Di desa ini sudah tumbuh homestay dan sejumlah tempat kuliner yang dipadukan dengan aktivitas sanggar seni.
"Aktivitas mendukung pariwisata sudah mulai tumbuh. Sangar-sanggar seni hidup. Ibu-ibu bahkan banyak sudah banyak yang mendapat orderan seiiring dengan makin diminatinya masakan khas Banyuwangi. Masyarakat Kemiren sudah siap menyambut wisatawan di sini," kata Anas.
Foto: Ardian/detikTravel |
Tradisi tersebut menarik perhatian sejumlah wisatawan asing yang sedang berlibur di Banyuwangi. Salah satunya Jannemarie de Jonge asal Belanda. Janne yang datang bersama kedua anaknya mengaku sangat menikmati tradisi ini. Dia bergembira berjalan kaki sepanjang 3 km memutari desa.
"Sangat menarik, ini pengalaman baru bagi saya. Meski di negara saya banyak karnaval, tapi yang menarik dan setradisional ini tidak ada di negara kami," tutur Janne.
Foto: Ardian/detikTravel |












































Foto: Ardian/detikTravel
Foto: Ardian/detikTravel
Foto: Ardian/detikTravel
Foto: Ardian/detikTravel
Foto: Ardian/detikTravel
Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Struk Belanja Taiwan Bisa Bikin Turis Jadi Orang Kaya Mendadak!