Perayaan Yadnya Kasada di Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur diikuti oleh ratusan, bahkan ribuan warga Tengger yang berjalan kaki sekitar 3 kilometer. Semuanya membawa sesaji dari Pura Poten Agung ke Kawah Bromo.
Mereka (Warga Tengger - red) membawa sesaji-sesaji hasil bumi dan hewan ternak yang sudah disembeleh atau yang biasa disebut ongkek. Sebelumnya hewan ternak dikumpulkan di Pura Agung yang berada tepat di bawah kawah Gunung Bromo atau di kaldera Bromo.
Perayaan hari raya Yadnya Kasada sendiri diikuti oleh warga Hindu Tengger dari empat Kabupaten, Pasuruan, Lumajang, Malang serta Probolinggo sendiri.
Sesaji-sesaji tersebut berupa sayur-mayur serta buah-buahan. Sebelum dikorbankan, sesaji terlebih dulu didoakan oleh masing-masing dukun pandita dari desa masing-masing.
Hari raya Yadnya Kasada berawal dari cerita rakyat Suku Tengger yang mengkisahkan Roro Anteng dan Joko Seger. Keduanya adalah pasangan suami istri. Joko Seger merupakan anak manusia yang berwibawa dan berbudi luhur, sedangkan Roro Anteng merupakan titisan dewi. Pasangan suami istri tersebut lama tak mempunyai keturunan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tradisi ini dilakukan sejak malam hingga subuh (M Rofiq/detikTravel) |
Sebagai bentuk kehormatan, warga Tengger mengorbankan hasil bumi ke kawah Gunung Bromo pada bulan Kasada kalender Suku Tengger. Tujuannya agar warga tentram damai dan hasil pertanian bisa melimpah. Sebagai rangkaian upacara tersebut, juga dikukuhkan dukun untuk memimpin hari raya Kasada untuk tahun berikutnya.
Namun pada saat jalannya ritual, cuaca esktrim terjadi di wilayah Bromo. Khususnya di sekitar pura. Hanya tak mengurangi kekhidmatan ritual. Di kawasan Pura Poten Agung, suhu udara kisaran 2 hingga 5 derajat Celsius dengan jarak pandang tidak sampai 10 meter.
Dessy, salah satu wisatawan dari Bandung, mengaku sangat kagum akan budaya warga Suku Tengger. Ia sendiri baru pertama kali mengunjungi Gunung Bromo.
"Liburan dengar Kasada itu hari rayanya Hindu Tengger di Bromo. Saya sengaja ke sini ingin melihat ritual Kasada," ujarya.
Menurut Supeno, tokoh masyarakat Tengger dari Desa Pandansari, Kecamatan Sumber, kisah mbok Dewi Roro Anteng dan Joko Seger punya 25 keturunan. Anak bungsu Dewa Kusuma dipersembahkan ke Kawah Bromo, dan tiap tahun keturunannya wajib melempar palawija dan makanan ke jurang kawah.
"Kasada bulan purnama tanggal 14 dan 15, mintanya anak Dewi Roro Anteng dan Joko Sengger supaya hasil tandur dan ternak disembahkan ke anak bungsu namanya Dewa Kusuma, agar anak cucunya supaya tandur turuhnya agar umat atau anak cucu di beri kesuburan dan keberkahan," terang Supeno.
Akhirnya tepat pukul 5 pagi, atau sebelum matahari terbit tadi, sesaji-sesaji hasil bumi dibawa ke kawah Gunung Bromo dan dilarung setelahnya. (msl/rdy)












































Tradisi ini dilakukan sejak malam hingga subuh (M Rofiq/detikTravel)
Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Sebelum Bikin Patung Macan Putih Gemoy, Seniman di Kediri Sempat Mimpi Aneh